Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Dikuasai Taliban, Negara Miskin Namun Memiliki Mineral Senilai 1 Triliun Dolar AS

Dikuasai Taliban, Negara Miskin Namun Memiliki Mineral Senilai 1 Triliun Dolar AS

- Kamis, 19 Agustus 2021 14:00 WIB
GOOGLE
Pasukan Taliban di Afghanistan
MATATELINGA. London - Pejabat militer dan ahli geologi AS mengungkapkan Afghansitan memiliki cadangan mineral senilai hampir 1 triliun Dolar AS atau setara Rp14.370 triliun. Yang tadinya Afghanistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Namun pada 2010, setelah diteliti Afghansitan memiliki cadangan mineral yang sangaat pantastis.

Menurut Schoooner, ada kemungkinan Taliban menggunakan kekuatan barunya untuk mengembangkan sektor pertambangan Afghanistan.

Sementara mantan Direktur IMF untuk Timur Tengah dan Asia Tengah Mosin Khan mengatakan, investasi asing sulit didapat sebelum Taliban menggulingkan pemerintah sipil Afghanistan yang didukung Barat. Kini, menarik modal swasta akan menjadi lebih sulit karena banyak investor global berpegang pada standar lingkungan, sosial, dan tata kelola yang semakin tinggi.

Baca Juga:Para Perempuan Afghanistan, Diberi Janji Janji Manis Taliban

"Siapa yang akan berinvestasi di Afghanistan ketika mereka tidak mau berinvestasi sebelumnya? Investor swasta tidak akan mengambil risiko," ujarnya.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), rata-rata mobil listrik membutuhkan mineral enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional. Lithium, nikel, dan kobalt sangat penting untuk baterai listrik.

Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk membuat turbin angin bekerja.

[br]

Penguasaan Taliban atas Afghanistan pada Minggu 15 Agustus 2021, menyebabkan banyak pakar bertanya tentang nasib kekayaan mineral di negara itu yang belum dimanfaatkan.

Pasokan mineral seperti besi, tembaga, dan emas tersebar di seluruh negeri. Selain itu, ada mineral tanah jarang dan paling penting, lithium mungkin menjadi salah satu cadangan terbesar di dunia yang belum dimanfaatkan. Lithium merupakan kompenen penting yang langka untuk baterai listrik dan teknologi lain untuk mengatasi krisis iklim.

"Afghanistan merupakan wilayah yang kaya akan logam mulia tradisional, dan juga logam (yang dibutuhkan) untuk ekonomi yang muncul di abad 21," kata seorang ilmuwan dan pakar keamanan yang mendirikan Ecological Futures Group Rod Schoonover, disadur oleh wartawan, Kamis (19/08/2021).

Tantangan keamanan, kurangnya infrastruktur, dan kekeringan parah di negara itu telah mencegah ekstrasi mineral paling berharga di masa lalu. Afghanistan dijuluki sebagai 'kutukan sumber daya' karena upaya untuk mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) gagal memberikan manfaat bagi masyarakat lokal dan ekonomi domestik.

[br]

Hanya saja, pengungkapan kekayaan mineral Afghanistan berdasarkan survei sebelumnya telah menunjukkan potensi yang besar. Permintaan logam seperti lithium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodymium melonjak ketika banyak negara mulai beralih ke mobil listrik dan teknologi ramah lingkungan untuk memangkas emisi karbon.

Pemerintah AS dilaporkan telah memperkirakan cadangan lithium di Afghanistan dapat menyaingi yang ada di Bolivia, rumah bagi cadangan lithium terbesar yang diketahui di dunia.

"Jika Afghanistan dalam beberapa tahun tenang, memungkinkan pengembangan sumber daya mineralnya, dan bisa menjadi salah satu negara terkaya di kawasan tersebut dalam satu dekade," kata Mirzad dari Surveyor Geologi AS kepada majalah Science pada 2010.

Namun meski telah ada beberapa ekstraksi emas, tembaga dan besi, eksploitasi lithium dan mineral tanah jarang membutuhkan investasi dan pengetahuan teknis yang jauh lebih besar, serta waktu. IEA memperkirakan dibutuhkan rata-rata 16 tahun dari penemuan cadangan mineral untuk memulai produksi. (Mtc/Okz)

Editor
: Rizky

Tag:

Berita Terkait

Internasional

Matatelinga.com Meraih Juara Satu, Pembaca dan Pengunjung Terbanyak Pemberitaan Polda Sumut

Internasional

Sukseskan Gerakan ASRI, Forkopimda Sibolga Gotong Royong Massal Bersama Warga

Internasional

Dihantam Banjir Bandang Jalan Desa Kampung Mudik-Aek Dakka Barus Sudah Dapat Dilalui

Internasional

PWI Labuhanbatu Akan Gelar Konferensi IX, Panitia Pelaksana Terbentuk

Internasional

Pemprov Sumut Genjot Pembangunan Infrastruktur Terpadu Lewat Program INSTANSI

Internasional

Polwan Polda Sumut Laksanakan Pengamanan Aksi Unjuk Rasa di Kantor Gubernur Sumut, Dengan Humanis