MATATELINGA. Kandahar - Tah apa motiv nya, ledakan bom kembali terjadi di dalam masjid, sebuah ledakan bom mengguncang satu masjid milik umat Syiah saat shalat Jum'at pada Jum'at (15/10/2021) di Kota Kandahar, Afghanistan. Sedikitnya 37 orang meninggal dan 70 lainnya luka-luka.Laporan Reuters mengatakan pasukan khusus Taliban telah mengamankan lokasi tersebut dan telah meminta orang-orang untuk mendonorkan darahnya guna membantu para korban.Wartawan BBC Afghanistan, Secunder Kermani, mengatakan bahwa IS-K, cabang lokal dari Kelompok Negara Islam, diperkirakan akan mengeklaim bahwa mereka berada di balik serangan itu. Seperti dikutip dari okezone, Minggu (17/10/2021).
Baca Juga:Pertemuan Tatap Muka Pertama, Taliban Sebut AS Setuju Kirim Bantuan ke AfghanistanPada Jum'at pekan lalu, serangan bunuh diri di sebuah masjid Syiah selama salat Jumat di wilayah utara kota Kunduz telah menewaskan sedikitnya 50 orang.Saat itu IS-K mengatakan mereka berada di balik serangan paling mematikan semenjak pasukan Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan pada akhir Agustus.IS-K merupakan kelompok paling ekstrem dan brutal dari semua kelompok militan jihad di Afghanistan, dan menyatakan sebagai penentang pemerintahan Taliban.Kelompok Taliban mengambil alih Afghanistan setelah pasukan asing menarik diri dari negara itu pada akhir Agustus menyusul kesepakatan dengan AS.Hal itu terjadi dua dekade setelah pasukan AS menyingkirkan kelompok militan itu dari kekuasaan pada 2001.[br]Foto-foto dari dalam masjid Fatemieh menunjukkan jendela-jendela kaca pecah dan mayat-mayat tergeletak di lantai dan jemaah lainnya berusaha membantu.BBC telah diberitahu bahwa itu adalah bom bunuh diri.Seorang wartawan lokal yang dikutip kantor berita Reuters mengatakan sejumlah saksi mata menggambarkan adanya tiga orang pelaku bom bunuh diri.Satu pelaku meledakkan bomnya di pintu utama masjid, dan dua orang lainnya meledakkan diri di dalam masjid.Saat ledakan terjadi, masjid itu dipenuhi jmaah salat Jumat. Setidaknya 15 ambulans berada di tempat kejadian setelahnya, kata seorang wartawan AFP.