MATATELINGA, Teheran: Pertemuan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kali ini, untuk membahas proposal penghentian perang antara Amerika Serikat dan Iran, menurut laporan media Iran pada Jumat (22/5/2026). Kantor berita Tasnim melaporkan, pertemuan tersebut berfokus pada pembahasan proposal terkait kontak tidak langsung antara Teheran dan Washington.Sebelumnya, kantor berita ISNA melaporkan, pertukaran pesan antara Iran dan AS melalui mediasi Pakistan masih terus berlangsung guna mencapai kesepakatan kerangka, meski sejumlah perbedaan belum terselesaikan. Menurut ISNA, Naqvi yang untuk kedua kalinya pekan ini mengunjungi Teheran, menyampaikan pesan dari pihak AS kepada pejabat Iran.Sumber Pakistan yang dikutip ISNA menyebutkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir akan melakukan kunjungan apabila kedua pihak berhasil menyepakati kerangka yang diusulkan.Berdasarkan proposal 14 poin Iran yang sebelumnya dilaporkan Anadolu, Teheran menginginkan negosiasi terpisah mengenai program nuklirnya, termasuk isu uranium yang diperkaya, dalam waktu 30 hari setelah tercapainya gencatan senjata permanen. Namun, Washington menginginkan isu nuklir dibahas dan diselesaikan sebelum kesepakatan gencatan senjata permanen diberlakukan.Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz.Gencatan senjata AS-Iran berlaku sejak 8 April melalui mediasi Pakistan, namun perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu dan tetap memberlakukan blokade kapal terkait Iran.Sebelumnya, sorang sumber militer Iran kepada RIA Novosti mengatakan, Iran memiliki senjata canggih yang belum digunakan di medan perang dalam konfliknya dengan AS dan Israel. Pada 18 Mei, dengan mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, CNN melaporkan bahwa Pentagon telah menyiapkan daftar target serangan di Iran jika Presiden AS Donald Trump memberi perintah untuk melanjutkan serangan terhadap negara tersebut."Kami telah memproduksi senjata canggih di dalam negeri yang belum digunakan di medan perang dan belum diuji coba," kata sumber Iran tersebut, mengomentari kesiapan Iran untuk kemungkinan serangan AS berikutnya.Menurut sumber tersebut, Teheran tidak kekurangan aset yang siap digunakan untuk menangkis serangan. "Dalam hal peralatan dan kemampuan pertahanan, kami tidak kekurangan apa pun yang akan menghalangi kami untuk membela negara kami. Kali ini, kami tidak berniat untuk menahan diri," kata sumber tersebut.Pada Rabu (20/5/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan bahwa agresi baru AS dan Israel terhadap Iran akan memicu sebuah perang yang luas melebihi kawasan Timur Tengah. IRGC menegaskan, Iran akan melancarkan serangan balasan yang tak diharapkan musuh.Dalam pernyataan dengan kalimat yang keras dikutip Mehr News, Rabu (20/5/2026), IRGC menyebut "musuh Amerika-Zionis", dengan mengatakan bahwa Washington dan Israel telah gagal belajar dari kekalahan strategis berulang dan lagi-lagi menebar ancaman. IRGC mengatakan, meski AS dan Israel melancarkan serangan dengan kekuatan penuh pada perang lalu, Iran belum mengerahkan kapabilitas penuh dalam membalas.Jika agresi berulang, IRGC menegaskan, "perang di kawasan yang sebelumnya dijanjikan kali ini akan diperluas melebihi kawasan (Timur Tengah), dan pukulan telak kami akan membawa kalian ke kerusakan berkeping-keping yang tidak bisa anda bayangkan."