MATATELINGA - Mantan agen kontra-intelijen FBI, Patrick Steven Yaroch, ditangkap karena diduga mencuri aset kripto senilai hampir US$1 juta dari akun yang tengah dipantau oleh lembaga tersebut.
Kasus mantan agen FBI curi kripto ini terungkap setelah otoritas melakukan penyelidikan terhadap aktivitas Yaroch. Ia diduga memanfaatkan akses ke sistem internal pemerintah untuk menguras dana dari dompet kripto yang berkaitan dengan pihak asing, khususnya Rusia.
Baca Juga: Metaplanet Siapkan Obligasi Berbasis Bitcoin dengan Imbal Hasil 4–6 Persen Dilansir dari Investor Daily pada Selasa (4/8/2026), Yaroch diduga membuat dompet kripto pribadi pada akhir 2024. Ia kemudian menggunakan informasi internal FBI untuk memperoleh frasa sandi akun kripto yang menjadi target.
Dana tersebut selanjutnya dipindahkan melalui sekitar 10 hingga 12 transaksi terpisah.
Baca Juga: Warga Laporkan Ruko Jadi Tenpat Tambang Bitcoin di Namorambe Otoritas Sita Kripto Senilai US$925.426
Penggeledahan yang dilakukan di kediaman Yaroch di Ashburn, Virginia, menghasilkan sejumlah barang bukti.
Baca Juga: Wacana Polemik Bitcoin Kembali Mencuat dan Menjadi Sorotan Publik Otoritas menyita aset senilai US$925.426, dompet kripto fisik, frasa pemulihan yang ditulis tangan, serta sejumlah dokumen.
Dokumen yang ditemukan juga menunjukkan adanya dugaan rencana Yaroch untuk pindah ke luar negeri. Salah satu berkas yang disita berkaitan dengan Portugal.
Baca Juga: Pencurian Arus Listrik, Polda Sumut Serahkan 2 Tersangka Tambang Bitcoin ke Kejaksaan FBI Langsung Bertindak Setelah Mengetahui Dugaan Pencurian
Juru bicara FBI mengatakan lembaga tersebut langsung mengambil tindakan setelah mengetahui dugaan tindak pidana yang dilakukan Yaroch.
"Begitu mengetahui tuduhan ini, FBI langsung mengambil tindakan tegas, memulai investigasi, dan akhirnya mengeksekusi surat perintah penangkapan terhadap yang bersangkutan minggu lalu," ujar juru bicara FBI.
Baca Juga: Polda Sumut Tetapkan 3 Tersangka Kasus Tambang Bitcoin FBI juga menegaskan bahwa seluruh pegawainya dituntut untuk menjaga standar etika yang tinggi.
"Perilaku seperti ini sama sekali tidak ditoleransi di lingkungan FBI. Kami tengah melakukan penyelidikan menyeluruh, dan karena proses hukum masih berjalan, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut," tambahnya.
Baca Juga: Digerebek Tim Polda Sumut, Ruko Tambang Bitcoin di Medan Sunggal Rugikan Negara Sebesar Rp14,4 Miliar Riwayat ChatGPT Yaroch Ikut Diselidiki
Penyelidikan terhadap Yaroch turut menemukan riwayat percakapan di aplikasi
ChatGPT yang tersimpan di ponselnya.
Baca Juga: 26 Terduga Penambang Bitcoin Diamankan Polda Sumut Dalam percakapan tersebut, Yaroch diketahui pernah bertanya mengenai cara menginvestasikan uang hasil pencurian serta prosedur untuk pindah ke luar negeri.
Temuan tersebut menjadi bagian dari bukti yang diperiksa dalam penyelidikan kasus dugaan pencurian
aset kripto tersebut.
Baca Juga: Unjuk Rasa Aliansi Masyarakat Pencari Keadilan terhadap dampak pencurian listrik illegal perusahaan bitcoin Mantan Agen FBI Akui Perbuatannya
Yaroch disebut telah mengakui perbuatannya kepada seorang rekan kerja. Setelah itu, ia melaporkan tindakannya kepada Departemen Kehakiman Amerika Serikat.
Yaroch kemudian dipecat dari FBI dan ditangkap pada hari yang sama ketika penggeledahan dilakukan.
Baca Juga: Diduga Sebagai Penyebab Listrik Padam, Kapolda Sumut Diminta Tangkap Penambang Bitcoin di Delitua Kasus ini sekaligus menyoroti tantangan pengawasan aset digital yang berkaitan dengan operasi kontra-intelijen dan kejahatan lintas negara.
Aset kripto dapat dipindahkan melalui berbagai transaksi digital, sementara penanganan aset yang berkaitan dengan kasus intelijen atau pihak asing sering kali dilakukan dalam kondisi tertutup.
Baca Juga: Dolar AS Naik Terhadap Sekeranjang Mata Uang, Bitcoin Naik Hingga 6,27% Meski demikian, dugaan terhadap Yaroch masih berada dalam proses hukum. Seluruh tuduhan terhadapnya perlu dipandang sebagai dugaan sampai terdapat keputusan hukum yang berkekuatan tetap.