MATATELINGA,Istanbul: "Sekretaris Jenderal PBBAntonio Guterresmengutuk keras serangan-serangan dan menyerukan kepada semua pihak untuk segeramengakhiri kekerasan demi melindungi warga sipil serta mematuhi kewajibanmereka berdasarkan hukum internasional,.
Dujarric menjelaskan bahwa serangan pada 28 September di dekatsebuah pasar di kota Kalchau dilaporkan menewaskan 50 orang dan melukai hampir60 orang lainnya, dengan banyak korban selamat menderita luka parah dansembari menuntut agar pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban," kata Dujarric kepada wartawan.
Baca Juga: Proposal Iran di Tolak Presiden Amerka Serikat, Kenapa...? Dia mencatat bahwa serangan tersebut memperjelas fakta bahwa belumada kondisi yang memungkinkan pemulangan yang aman, sukarela, bermartabat, danberkelanjutan bagi para pengungsi, termasuk komunitas Rohingya.
Pimpinan PBB itu mendesak pihak-pihak yang bertikai untukmemfasilitasi akses yang "aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan"bagi PBB dan mitra kemanusiaan guna menyalurkan bantuan vital di mana punbantuan tersebut dibutuhkan.
Guterres juga menyuarakan kekhawatiran yang sama dengan BadanPengungsi PBB (UNHCR) dan Kantor Hak Asasi Manusia PBB terkait laporanpemulangan sekitar 1.500 orang ke
Myanmar oleh otoritas Malaysia, sertamendesak Kuala Lumpur untuk menghentikan proses tersebut dan segera menyetopdeportasi lebih lanjut.
Malaysia mulai memulangkan 1.476 warga negara Myanmar pada Selasamenggunakan tiga kapal angkatan laut Myanmar.
Baca Juga: Iran Mengancam AS, Akan Membidik Lokasi Lokasi Baru dengan Senjata Baru Kelompok tersebut terdiri dari 1.370 laki-laki, 79 perempuan, 20anak laki-laki, dan tujuh anak perempuan yang berusia antara 8 hingga 60 tahun,menurut laporan kantor berita pemerintah Malaysia, Bernama, yang mengutip WakilSekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Makhzan Mahyuddin.
Dujarric menegaskan bahwa hukum kebiasaan internasionalmembebankan kewajiban yang mengikat bagi semua negara untuk tidak memulangkanindividu ke negara tempat mereka menghadapi persekusi, penyiksaan, atau ancamanserius terhadap nyawa dan kebebasan mereka.
Myanmar telah mengalami perang saudara berkepanjangan selamabertahun-tahun, yang semakin memanas setelah Min Aung Hlaing menggulingkanpemerintahan terpilih pada Februari 2021.
Sejumlah kelompok oposisi etnis saat ini sedang memerangipemerintahan Min di berbagai wilayah negara tersebut.
Baca Juga: Pangkalan Yordania Rusak dan Sejumlah Pesawat Amerika Serikat Rakhine sebagian besar merupakan tempat tinggal bagi komunitasRohingya, kelompok mayoritas Muslim, yang telah menghadapi persekusi oleh junta
Myanmar maupun kelompok-kelompok oposisi lainnya.
Selama bertahun-tahun, ratusan ribu orang Rohingya telah dipaksakeluar dari negara Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Buddhatersebut.
Baca Juga: Apa Langkah Iran dengan Tejuh Orang Tewas Serangan Israel