MATATELINGA,Paris: Para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa bergabungdengan petugas pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, staf transportasi, danpegawai negeri lainnya yang sedang melakukan aksi mogok kerja.Mereka menuntut perekrutan lebih banyak guru pengganti sertakondisi pembelajaran yang lebih baik. Mereka mendirikan barikade darurat,memblokade sekolah dan universitas, serta membakar tempat sampah saatberhadapan dengan polisi.
Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata ke arah
mahasiswadan pelajar yang berunjuk rasa di
Saint-Denis, sebuah kawasan pinggiran kotaParis, di tengah
aksi mogok kerja nasional yang berujung pada penangkapanhampir 2.000 orang di seluruh
Prancis.
Sebanyak1.949 orang ditangkap pada Kamis, (1/10/2026) meningkat dari 625 orang padahari sebelumnya. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengecam apa yangdisebutnya sebagai "kekerasan yang tak terkendali," sementarakementerian melaporkan bahwa 305 petugas polisi dan gendarme (polisi militer)mengalami luka-luka.
Baca Juga: Gubernur Bobby Nasution Siapkan Dua Hadiah untuk UMSU, Beasiswa hingga Dukungan Pembangunan Kampus MenteriPendidikan
Prancis Édouard Geffray mengatakan bahwa lebih dari 400 sekolah akanditutup pada hari Jumat akibat kerusuhan tersebut. Ia berpendapat bahwa gerakanpelajar itu telah "disandera oleh kelompok-kelompok kekerasan."
Nunez mengatakan bahwa badan pengawas kepolisian Prancis,Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional, telah membuka tiga penyelidikanterkait insiden yang menyebabkan para pelajar mengalami cedera.
Menurut laporan RFI, dalam salah satu kasus, jaksa menyatakanbahwa seorang pemuda di Tours menderita cedera kepala yang mengindikasikanadanya benturan akibat proyektil yang ditembakkan dari senjata polisi yangbersifat tidak mematikan.
Namun,Menteri Dalam Negeri membela tindakan kepolisian secara keseluruhan danmenyebutnya sebagai respons yang proporsional.
Baca Juga: Pelindo Belawan Buka Ruang Belajar bagi Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Medan di Terminal Penumpang Bandar Deli Di Marseille, para pengunjuk rasa menyerang petugas pemadamkebakaran yang sedang menangani kebakaran di luar Lycée Saint-Exupéry, sertamenjarah dan membakar salah satu kendaraan mereka. Seorang petugas pemadamkebakaran terluka, dikutip Okezone.
Parapengunjuk rasa juga membakar sebuah bus kota di dekat Lycée La Floride,sementara beberapa bus lainnya diserang, sehingga pihak berwenang menghentikanlayanan transportasi umum di seluruh Marseille.
Pemerintahmenggelar rapat darurat pada Kamis, dan setelah itu kantor perdanamenteri dengan mengutip informasi dari badan intelijen—menyatakan bahwakekerasan tersebut diorganisasi oleh partai sayap kiri La France Insoumise(LFI) beserta "pihak-pihak proksi sayap kiri jauhnya."
Jurubicara LFI, Manuel Bompard, mendesak pemerintah untuk "tidak terjebakdalam teori konspirasi atau memperlakukan siswa SMA layaknya anak-anak."
Baca Juga: Ini Pernyataan Resmi USU Terkait Meninggalnya Mahasiswa FIB "Gerakanspontan ini lahir dari rasa frustrasi terhadap kondisi pendidikan yang samasekali tidak dapat diterima," ujar Bompard kepada AFP.
Jean-LucMélenchon, kandidat dari partai LFI untuk pemilihan presiden tahun depan,mengimbau para siswa untuk hanya menggunakan cara-cara tanpa kekerasan.
Parasiswa menuntut peningkatan pendanaan bagi pendidikan negeri, jadwal pelajaranyang tidak terlalu padat, serta ukuran kelas yang lebih kecil. ChristelleKauffmann, wakil sekretaris jenderal serikat administrator sekolah SNPDEN-Unsa,menyatakan bahwa pihak kepala sekolah tidak memiliki sumber daya yang memadaiuntuk mengurangi jumlah siswa di dalam kelas.
Baca Juga: Rico Waas Dukung Munas BEM Politeknik se-Indonesia di Medan