MATATELINGA, Los Angeles: Dua kepala Negara yakni Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, rencanannya akan bertemu secara singkat di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korut dan Korea Selatan.Dalam jumpa pers bersama di Seoul, Presiden Moon mengatakan Trump dan Kim akan "bersalaman untuk perdamaian" di perbatasan.Jika terlaksana, ini adalah pertemuan Trump dan Kim yang ketiga setelah perjumpaan di Singapura dan Hanoi, Vietnam.Rencana pertemuan ini dikonfirmasi baik oleh Presiden Korsel, Moon Jae-in, maupun Trump sendiri.Moon berkata Trump dan Kim akan bertemu di Panmunjom, desa di dalam zona demiliterisasi yang kerap menjadi lokasi perundingan antara Korut dan Korsel. Trump menambahkan bahwa dirinya dan Kim telah "membangun hubungan yang sangat baik" dan menanti untuk berjumpa dengannya.Agenda perjumpaan tersebut tampaknya mengemuka setelah Trump merilis cuitan, yang mengutarakan keinginannya untuk berjabat tangan dengan Kim dan berkata "Halo" di Zona Demiliterisasi.Namun begitu Korut sejauh ini belum berkomentar. Trump bertandang ke Korsel untuk berbicara dengan Moon soal perundingan program nuklir Korut yang mandek. Seberapa bermakna pertemuan ini?Walau tidak ada waktu untuk menggelar serangkaian diplomasi di ruangan tertutup, pertemuan di Panmunjom ini bakal menjadi kesempatan berfoto bagi Trump dan Kim.Perundingan yang digelar agar Pyongyang melucuti program nuklirnya mencapai puncak tahun lalu ketika Trump dan Kim bertemu di Singapura.Keduanya berkomitmen untuk melakukan "denuklirisasi sepenuhnya" di Semenanjung Korea", tanpa menjabarkan maksudnya di ranah teknis.Pada pertemuan kedua di Hanoi, pada Februari lalu, diharapkan kedua sosok mencapai kesepakatan konkret sehingga Korut meninggalkan program nuklir dan, sebagai imbal balik, sanksi-sanksi dicabut.Akan tetapi, perundingan tersebut selesai tanpa kesepakatan apapun. Baik Trump maupun Kim tidak mencapai persetujuan mengenai laju pencabutan sanksi.Sejak saat itu negosiasi mandek, meski Kim dan Trump berbalas surat selama sepekan terakhir.Dengan demikian, jabat tangan di perbatasan sejatinya tindakan simbolis, yang menandai komitmen keduanya, namun dampak terhadap perundingan denuklirisasi tergolong minim.