BRASIL - Matatelinga, Korupsi dan resesi ekonomi di Brasil membuat Presiden Dilma Rousseff di ujung tanduk. Kemarin (15/3/2015), jutaan warga berunjuk rasa di pelbagai kota, menuntut pemimpin perempuan itu mundur dari posisinya.ABC Net atau BBC melansir dan dikutip laman merdeka.com, hitungan yang tak jauh berbeda, mencapai 1,5 juta orang. Di Kota Sao Paolo saja, ada sejuta orang turun ke jalan membentangkan bendera brasil, memakai baju timnas sepakbola yang berwarna kuning hijau, serta membawa pelbagai spanduk, menyatakan Dilma tidak pantas lagi dipertahankan sebagai presiden."Kami mewakili ribuan lainnya. Mandat kami jelas, makzulkan Dilma," kata Rubens Nunes, pemuda 26 tahun asal Sao Paolo.Secara total, demonstrasi warga digelar di 83 kota. Bahkan di Ibu Kota Brasilia yang biasanya ayem, 50 ribu warga menggelar long march ke Gedung Kongres.Pemimpin oposisi Aecio Neves mengatakan kebijakan Dilma di bidang ekonomi hancur-hancuran. Partai Pekerja yang menjadi kendaraan politik Dilma, kini sedang disoroti karena diduga menggasak uang dari BUMN migas, Petrobras.Nilai rasuah melibatkan petinggi Petrobras itu mencapai setara Rp 50 triliun selama rezim PT berkuasa. Sejauh ini sudah ada 22 pejabat internal BUMN, 13 anggota parlemen, serta dua gubernur disidik karena dugaan terlibat suap proyek sumur minyak ini."Dilma diam saja ketika skandal korupsi terjadi di masa kepemimpinannya," kata Alessandro Braga (37 tahun), kelas menengah yang ikut turun ke jalan kemarin.Dilma mengaku mendukung warganya berunjuk rasa. Dia mengatakan momentum jutaan warga turun ke jalan berdekatan dengan perayaan 30 tahun berakhirnya pemerintahan diktator militer. "Protes warga ini menunjukkan kedewasaan demokrasi di Brasil," ujar presiden berhaluan sosialis itu.(Fit)