Matatelinga.com, Presiden Prancis FrancoisHollande terhitung lebih lambat panas dibanding Australia dalam membelawarganya yang terancam hukuman mati pekan ini. Baru pada Sabtu (25/4/2015)kemarin, dia menyuarakan ancaman pada pemerintah Indonesia agar membatalkaneksekusi Serge Atlaoui (50 tahun) yang diduga pengusaha pabrik narkoba.
"Kamiakan memanggil duta besar kami," ujarnya seperti dikutip dariInternational Business Time dan dilansir laman merdeka.com, Senin (27/4/2015)
Lebihdari itu, Hollande juga ingin menghubungi pemimpin Australia maupun Brasil. Duanegara itu juga warganya akan dieksekusi oleh kejaksaan agung di LapasNusakambangan.
Bilatidak meleset, eksekusi mati 10 WNA akan digelar pada Selasa (28/4/2015) dinihari.
"Kamiakan mengambil tindakan bersama negara-negara terkait, Australia dan Brasil,untuk memastikan tak ada eksekusi," kata Hollande.
Hollanderencananya menemui PM Australia, Tony Abbott, pada 27 April mendatang membahasisu hukuman mati Indonesia.
Di luarancaman-ancaman itu, apakah risiko lain yang dihadapi Indonesia seandainyahubungan bilateral dengan Prancis rusak?
Menjelangakhir era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia ingin bekerja samamembangun kapal selam bersama Prancis.
WakilMenteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah melawat ke Paris pada 26 Juni2014.
Kerjasama konkret, selain kapal selam, juga telah dilakukan dengan pembelian meriamCaesar 155 mm buatan PT Nexter untuk memasok TNI Angkatan Darat.
Di luar itu, Indonesia juga bekerja samadengan pabrikan mobil Renault, asal Negeri Anggur, untuk memasok 250 mesinpanser bikinan PT Pindad.
Rupanya,kerja sama pengadaan alutsista dengan Prancis masih digelar ketika PresidenJoko Widodo naik ke tampuk kekuasaan pertama kali.
Kedua pemerintahan meneken kerja sama - bidang maritim, khususnyapengembangan galangan kapal.
"Pemerintah memberikan penekanan pada industri sektor maritimkarena Perancis kuat dalam industri galangan kapal. Sebuah kelompok kerja akandibutuhkan untuk membicarakan kerja sama," kata Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto pada 17 November 2014.
Bilaancaman Hollande terbukti, maka kerja sama ini bisa terganggu.
Potensipembelian jet tempur Dassault Aviation Rafale juga terancam batal ketikaAtlaoui dieksekusi mati pekan ini.
Untukdiketahui, akhir-akhir ini Dassault Aviation gencar berpromosi ke Indonesiasehubungan dengan akan digantinya pesawat tempur F-5 Tiger milik TNI AU yangsudah tua usia.
DassaultRafale didesain bersayap delta dipadukan dengan kanard aktif terintegrasi untukmemaksimalkan kemampuan manuver (+9 g atau -3 g) untuk kestabilan terbang.Maksimal 11 G dalam keadaan darurat. Kanard juga mengurangi laju pendaratanhingga 115 knot. Pesawat ini dapat dioperasikan dari landas pacu hanyasepanjang 400 meter.
TNIAngkatan Udara sempat kepincut melihat kemampuan jet tempur tersebut."Kesan saya sebagai penerbang F5, setelah saya coba terbangkan Rafale,saya bandingkan dengan F5 jauh sekali, lompatan teknologinya. Kalau F5 banyakanalog Rafale ini digital, radarnya juga jauh lebih canggih," kata MayorPenerbang Abdul Haris dari Skuadron Udara 14 wing 3 Lanud Iswahyudi.
(Fit)