Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Umat Buddha di Myanmar Pembenci Warga Muslim Rohingya
Imigran Rohingya

Umat Buddha di Myanmar Pembenci Warga Muslim Rohingya

Admin - Jumat, 22 Mei 2015 08:31 WIB
google
Biksu Wirathu

Matatelinga.com, Ribuanwarga muslim Rohingya dalam beberapa pekan terakhir terpaksa diselamatkannelayan Aceh ketika mereka terapung-apung di lautan dalam kondisi mengenaskan.Badan mereka kurus-kurus dan kelaparan.

Para imigran asal Myanmar itu terpaksameninggalkan rumah mereka karena konflik sektarian di negerinya. Mayoritas umatBuddha di Myanmar membenci warga muslim Rohingya. Konflik yang sudahberlangsung sejak 2012 itu sudah menewaskan ribuan muslim Rohingya, termasukkaum wanita dan anak-anak.

Kebencian warga Buddha itu bersumber dari gerakanantimuslim dikenal dengan nama 969. 

Selebaran, stiker, DVD, dan Internet digunakanuntuk menyebarkan kebencian terhadap minoritas muslim di negara itu, sepertidilansir surat kabar The Sydney Morning Herald dan dikutip laman merdeka.com,Jumat(22/4/2013). Stiker 969 makin banyak ditempel di jendela-jendela toko, taksi,dan rumah-rumah di dua kota besar, yakni Yangon dan Mandalay.

Gerakan 969 ini dipimpin oleh biksu-biksu radikal.Salah satunya adalah Wiseitta Biwuntha, sering disapa Yang Mulia Ashin Wirathu.Biksu yang divonis seperempat abad penjara ini karena menyulut kerusuhanantimuslim dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik setelahmendapat amnesti.

Wiratu mengklaim dirinya sebagai Bin Ladin asalBurma ini menyebut muslim sebagai musuh. Dia juga menuding muslim Myanmarsumber kejahatan. "Tugas saya adalah menyebarkan misi ini,"ujarnya. "Saya hanya bekerja bagi orang-orang percaya terhadap ajaranBuddha." 

"Gerakan anti muslim terus tumbuh danpemerintah tidak menghentikannya," kata Myo Win, seorang guru muslim. Diajuga menyebut 969 sama dengan kelompok ekstrem Ku Klux Klan di Amerika Serikat.

Logo 969 kini paling dikenal di Myanmar. Logo ituberbentuk lingkaran cakra dengan empat singa Asia di bagian tengahnyamenggambarkan keturunan Budha Ashoka. Sticker berlogo 969 ini kerap dibagikangratis saat ceramah-ceramah. Sticker ini juga ditempel di berbagai tempat danbenda-benda seperti pintu toko, pintu rumah, taksi, kios cinderamata.

Umat Buddha dan segala yang mendukung 969beralasan Wirathu hanya bermaksud melindungi dan menyebarkan agama negara,Budhha. Wirathu mulai menyebarkan gerakan 969 pada 2001 ketika Talibanmenghancurkan patung Budhha di Bamiyan, Afganistan. Dua tahun kemudian Wirathuditangkap dan divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan pamflet anti muslimyang memicu kerusuhan hingga menewaskan sepuluh muslim.

Pada 2011 dia dibebaskan ketika ada amnesti bagipara tahanan politik. Sejak tahun lalu gerakan 969 makin meluas di Myanmardengan tujuan memboikot muslim di seluruh negeri.

Gerakan 969 merupakan tandingan dari angka 786yang menjadi simbol umat muslim Myanmar. Angka 786 sering terlihat dirumah-rumah dan toko-toko umat muslim. Angka itu menjadi simbol berkah bagiumat Islam. Angka 786 itu diartikan "Bismillahirrahmanirrahim" atau"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyanyang". Di Myanmaryang selalu mengagumi angka keramat semacam itu, umat Buddha menilai jumlah angka786 itu berarti rencana dominasi muslim di abad ke-21.

Sebagian kalangan Buddha meyakini arti kebenaranangka itu. Tradisi dan keyakinan muslim di sana melarang mereka mengunjungirestoran Buddha. Umat muslim juga mendominasi sektor usaha kecil dan menengah(UKM).

Wirathu mengatakan dia ingin gerakan biksu radikal969 dipimpinnya bisa melindungi warga Buddha Myanmar dari minoritas muslim.

Wirathu juga menginginkan berakhirnya dominasimuslim pada perekonomian Myanmar. 

"Mereka memperkosa perempuan Buddha danmenggunakan kekayaannya memikat kaum hawa dalam pernikahan lalu memenjarakan dirumah. Sekarang bermain di partai politik. Jika seperti ini terus Myanmar akanmenjadi Afghanistan kedua," ujar Wirathu.

 

(Fit)


Tag:

Berita Terkait

Berita

Jangan Lewatkan Pertandingan Arsenal vs Manchester City di Community Shield

Berita

Gaya Hidup Sehat Remaja: Kunci Menciptakan Generasi yang Produktif dan Berkualitas

Berita

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

Berita

Halte Bus Listrik di Jalan Gatot Subroto: Solusi Transportasi atau Sumber Kemacetan Baru?

Berita

Macet Hari Ini, Harapan untuk Medan Esok Hari

Berita

Hari Lahir Pancasila: Di mana Peran Mahasiswa?