Matatelinga.com, Jet tempur Rusia dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan bertemu dan hanya terpisah dalam jarak 15 sampai 30 kilometer di wilayah udara Suriah. Peristiwa ini menimbulkan ketegangan dan memaksa kedua belah pihak untuk mengadakan pembicaraan mengenai keselamatan penerbangan. Juru bicara militer AS, Kolonel Steve Warren mengungkapkan bahwa empat pesawat tempur, dua milik AS dan dua milik Rusia, memasuki ruang tempur yang sama dan telah saling melihat satu sama lainnya. Warren menuduh Rusia berulang kali melanggar patroli udara dan berada di dekat pesawat tanpa awak (drone)milik AS. Belum ada tanggapan dari Rusia mengenai tuduhan itu. Peristiwa ini memaksa dua negara super power itu untuk kembali melakukan pembicaraan guna mencari cara menghindari konflik akibat kesalahan dan ketidaksengajaan yang terjadi saat Rusia dan AS melakukan operasi militer mereka di Suriah. “Meskipun kami terus tidak sependapat mengenai kebijakan di Suriah, kami setidaknya harus bisa sepakat untuk memastikan pilot-pilot kami dalam keadaan seaman mungkin,” kata Menteri Pertahanan AS, Ash Carter sebagaimana dilansir Independent dan dikutip laman okezone.com, Rabu (14/10/2015). Pembicaraan yang akan dilakukan merupakan ronde ketiga dari diskusi antara kedua negara. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah memperbaharui usulan mereka atas masalah Suriah kepada AS. AS dan Rusia sama-sama melakukan operasi militer di Suriah guna memerangi kelompok militan ISIS. Namun, tujuan keduanya tidak dapat dikatakan sama. AS dan koalisi 64 negara yang dipimpinnya menginginkan Presiden Suriah Bashar al Assad untuk lengser karena dianggap sebagai biang keladi kekacauan di Suriah. Di sisi lain, Rusia memberikan dukungan mereka kepada Assad yang mereka anggap sebagai pemerintah Suriah yang sah. Kondisi ini mengakibatkan ketegangan di negara Timur Tengah itu, dengan begitu banyaknya kekuatan militer di sana, sehingga sebuah kesalahan dapat mengakibatkan terjadinya Perang Dunia III. (Fit)