Matatelinga.com, Berbagai data analisis intelijen dari seluruh penjuru dunia semakin menguatkan dugaan adanya permainan gelap antara Amerika Serikat dan Turki di bawah bendera NATO dengan kelompok teroris ISIS.Jurnalis dan penulis asal AS, Brandon Turbeville meyakini, ISIS justru berani mencuri dan berbisnis minyak mentah dari Irak dan Suriah karena sudah ada kerja sama gelap dan izin dari NATO."Tentu saja, ISIS tidak mungkin akan bisa terlibat dalam penawaran minyak, tanpa sepengetahuan NATO. Justru karena sudah dilindungi NATO, mereka berani melakukannya. Bahkan, salah satu penyelundup utama yang melakukan bisnis dengan ISIS adalah Bilal Erdogan, putra Presiden Turki Recep Erdogan," tulis Brandon Turbeville dalam artikelnya untuk Aktivis Post, sebagaimana diwartakan Far News dan dikutip laman okezone.com, Sabtu (26/12/2015).Turbeville juga menyandingkan fakta bahwa kini setelah terbongkarnya skema perdagangan minyak ilegal mereka oleh Rusia, pihak Washington maupun NATO mengambil sejumlah langkah untuk menghentikan bisnis minyak ilegal Erdogan.Sikap ini menimbulkan pertanyaan perihal serangan-serangan koalisi antiteror AS yang tidak menitikberatkan pada penggempuran tangki minyak ISIS di Raqqa. Berbeda halnya dengan penggempuran yang diluncurkan Presiden Rusia Vladimir Putin."Laporan Norwegia mengonfirmasi fakta bahwa ISIS berada di bawah perintah dan bekerja sama dengan negara-negara NATO. Dan Turki memainkan peran yang sangat penting dalam bisnis gelap ini," tegasnya.(Fit)