Matatelinga.com, Selama hampir empat dekade, Arab Saudi menuduh Iran sebagai penyebar fitnah, keresahan, dan kekacauan. Tuduhan tersebut justru disampaikan ketika komunitas internasional berusaha mendamaikan kedua negara yang saling bersaing pengaruh itu.Hubungan kedua negara memang diketahui menjadi sangat panas setelah Saudi mengeksekusi mati ulama Syiah bernama Nimr al Nimr."Sejak revolusi pada 1979, Iran mempunyai catatan menyebarluaskan fitnah, keresahan, dan kekacauan di kawasan ini," tulis kantor berita SPA yang mengutip pernyataan seorang pejabat luar negeri Saudi, Kamis (21/1/2016)."Selama periode waktu yang sama, Kerajaan (Saudi) mengambil kebijakan yang menahan diri kendati menderita sebagai konsekuensi dari kebijakan yang terus menerus agresif dari Iran."Pejabat itu mengatakan, kebijakan Iran utamanya didasarkan pada ide mengekspor revolusi."Iran merekrut milisi di Irak, Lebanon, Suriah, dan Yaman," kata pejabat tersebut seraya menuduh Iran menyokong aksi terorisme dan melancarkan berbagai pembunuhan.SPA menyiarkan bukti 58 titik yang disiapkan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi untuk melukiskan kebijakan agresif Iran dan menyangkal ‘kebohongan-kebohongan nyata’ dari Teheran, termasuk sebuah artikel Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di New York Times pada pekan lalu.Zarif mengatakan, Saudi berusaha menghentikan kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar dan menutup dialog di Timur Tengah."Beberapa orang di Riyadh tidak hanya terus menghambat normalisasi namun juga berusaha menjerumuskan seluruh kawasan ke konfrontasi," tulis Zarif dengan menyatakan Saudi takut Iranofobia runtuh."Arab Saudi sepertinya takut bahwa hilangnya layar asap masalah nuklir akan mengekspose ancaman nyata dunia, yakni kesponsoran aktifnya kepada ekstremisme kekerasan," sambung Zarif, seperti dikutip AFP dan dilansir melalui laman okezone.com(Fit).