Matatelinga.com, Gadis –gadis Yazidi yang berhasil melarikan diri setelah dijadikan budak seks oleh ISIS masih diharuskan menjalani tes keperawanan untuk membuktikan penganiayaan terhadap mereka. Demikian dilaporkan oleh kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia di Irak.Luna, salah seorang korban penculikan yang dijadikan sebagai budak seks oleh ISIS, diyakini telah menjalani tes keperawanan sebagai metode pembuktian perkosaan untuk petugas di Irak yang mendokumentasikan kejahatan kelompok militan tersebut.Namun, menurut seorang hakim mengatakan kepada peneliti dari kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia bahwa komite itu telah menghentikan penggunaan metode tersebut dan mengadopsi cara baru yang direkomendasikan oleh PBB.“Ini adalah langkah penting bagi perempuan dan gadis seperti Luna yang sekarang dapat mencari keadilan atas kejahatan yang dilakukan pada dengan sebuah proses yang lebih menghargai hak perempuan dan komitmen yang lebih baik untuk korban perkosaan,” kata peneliti dari Pengamat Hak Asasi Manusia, Rothna Begum sebagaimana dilansir dari Independent dan dikutip dari laman okezone.com, Minggu (31/1/2016).Penggunaan metode tes keperawanan juga mendapat kecaman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena menimbulkan rasa sakit dan tekanan bagi para korban. Hasil yang didapat dari penggunaan metode ini juga dianggap tidak dapat memberikan validitas ilmiah(Fit)