Matatelinga.com, Operasi pembebasan Fallujah ni diprediksi akan memakan waktu hingga beberapa pekan, bahkan berbulan-bulan. Menurut pengamat Irak dari London School of Economics Ranj Alaaldin, sebagian warga justru memilih untuk tetap berada di bawah kekuasaan ISIS dibandingkan dengan di bawah kekuasaan Pemerintah Irak yang menurut mereka represif dan cenderung melakukan diskriminasi sektarian.Pasukan Irak menghujani markas
kelompok militan ISIS di Fallujah dengan tembakan artileri pada hari kedua serangan untuk membebaskan kota basis Muslim Sunni itu pada Selasa, 24 Mei. Serangan gencar tersebut membuat dunia internasional khawatir akan jatuhnya korban dari warga sipil yang masih berada di dalam kota.
Menurut laporan warga kota, gempuran artileri sporadis menghantam wilayah di sekitar pusat kota, namun, serangan di hari kedua ini tidak sedahsyat serangan di hari pertama.
“Tidak ada seorang pun yang bisa pergi. Situasi berbahaya. Ada sniper dimana-mana sepanjang rute keluar dari kota,” kata seorang warga Fallujah kepada Reuters, Rabu (25/5/2016).
Sekira 100 ribu warga sipil diperkirakan masih berada di Fallujah yang merupakan kota pertama yang dikuasai ISIS di Irak pada Januari 2014. Jumlah tersebut hanya sepertiga dari populasi kota sebelum terjadinya perang.
Lembaga PBB untuk masalah pengungsi, UNHCR mengatakan perempuan dan anak-anak tewas saat mencoba meninggalkan kota. Sejak 20 Mei lalu, hanya sekira 80 keluarga yang berhasil melarikan diri dari Fallujah.
PBB dan Komite Palang Merah Internasional meminta pihak-pihak yang berperang untuk melindungi warga sipil yang memiliki akses terbatas akan makanan, air dan kesehatan, dan sekarang berisiko untuk dijadikan tameng manusia.
Sampai saat ini belum ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan di hari kedua. Pada serangan hari pertama delapan orang warga sipil dan tiga orang militan terbunuh sedangkan 25 orang, sebagian besar warga sipil mengalami luka-luka.
(Mtc)