Matatelinga.com, Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Frank-Walter Steinmeier meminta polisi dan intelijen di seluruh Eropa bekerja sama, bersatu, dan saling berkordinasi untuk mencegah teror ISIS di Benua Biru terulang lagi. Seruan ini menyusul terjadinya teror di Prancis yang menewaskan belasan orang dalam insiden penembakan di kantor majalah mingguan Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015. Kemudian, teror Paris yang memakan korban hingga 130 orang pada 13 November 2015. Lalu, ledakan bom bunuh diri di stasiun kereta bawah tanah dan bandara internasional Brussel pada Maret 2016. Selanjutnya, serangan di Bandara Internasional Ataturk Turki. Kemudian teror penabrakan oleh truk di Nice, Prancis, yang menewaskan 84 orang. Terakhir, penyerangan di kereta api Jerman oleh pemuda Afghanistan yang melukai sedikitnya 15 penumpang. “Serangan-serangan di masa lalu telah menunjukkan kepada kita bahwa tidak aada keamanan yang mutlak. Teroris menyerang secara acak dan dapat menyasar siapa saja,” katanya, seperti diwartakan Reuters dan dikutip dari laman okezone.com, Rabu (20/7/2016). Frank menambahkan, “Faktanya, kita sedang sangat membutuhkan kerjasama yang lebih erat antara polisi dan agen intelijen di Eropa, dan lebih baik dalam hal berbagi informasi.” Melalui kerjasama mendalam diharapkan sistem keamanan di seluruh negara Eropa bisa ditingkatkan, sedangkan pengaruh ISIS bisa ditekan. Intelijen bisa berbagi pola dan saling mempelajari sehingga semua informasi yang layaknya puzzle bisa dikumpulkan dan menjadi satu gambaran utuh. Steinmeier juga menjelaskan, satu-satunya cara jangka panjang untuk memerangi kaum ekstremis adalah membiarkan kelompok berbeda agama dan kelas hidup damai, baik di negara-negara Barat maupun di kawasan rawan konflik seperti Timur Tengah. Bekerja sama dengan komunitas Muslim, kata dia, juga suatu langkah yang penting untuk dilakukan. Hal ini setidaknya akan mampu menurunkan dan mencegah anak-anak muda bergabung dengan kelompok ekstremis mana pun.(Fit)