Matatelinga.com, Markas militer Mali di pusat Kota Nampala diserang sekelompok pria bersenjata pada Rabu 20 Juli 2016 hingga menewaskan 17 tentara. Presiden Mali Ibrahim Boubaca Keita lantas mengumumkan tiga hari berkabung bagi para keluarga korban tewas dan terluka. Awalnya diduga serangan tersebut merupakan aksi balas dendam kelompok Etnis Fulani yang pernah berseteru dengan aparat. Akan tetapi, kelompok teroris Ansar Dine juga ikut mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Melihat kondisi keamanan negaranya yang sedemikian terancam oleh pemberontakan dan ekstremisme, Dewan Kementerian Mali juga mengumumkan perpanjangan status darurat selama 10 hari ke depan, terhitung sejak kemarin. “Terlepas dari segala upaya yang sudah dilakukan pemerintah, ancaman teroris itu tetap saja ada. Seperti yang dibuktikan melalui serangan terakhir yang terjadi di markas angkatan bersenjata dan keamanan Mali (di Nampala),” terang Dewan Kementerian Mali. Pengumuman itu merupakan perpanjangan dari status darurat nasional yang ditetapkan pertama kali pada November 2015 dan ditambah selama tiga bulan sejak April 2016. Mengutip dari Reuters dan dilansir dari laman okezone.com, Kamis (21/7/2016), sekelompok pria bersenjata datang mengendarai empat mobil, mendadak menembaki kendaraan patrol militer Mali di Mbokari, sebelah utara kawasan Timbuktu. Di tempat terpisah, sekelompok militan juga menyerbu dan membakar balai kota di Desa Gatiloumou, di pusat Kota Mopti. Mali bergejolak oleh serangan terorisme sejak tiga tahun belakangan. Ketika kelompok teroris berkedok Islam memboikot pemberontakan etnis di Tuareg. Guna menangani kasus ini, PBB mengirim bala bantuan dari Prancis pada 2013. Saat ini ada sekira 11 ribu pasukan penjaga perdamaian PBB yang beroperasi di negara tersebut, bekerja sama dengan aparat keamanan negara di Afrika Barat tersebut. Meski demikian, Mali masih saja dirundung dengan berbagai serangan teroris, termasuk penyanderaan ratusan orang di Hotel Radisson Blu di ibu kota setahun lalu.(Fit)