Matatelinga.com, Otoritas Kota Khujand, Tajikistan disebut-sebut mengawasi para perempuan yang mengenakan hijab. Aksi itu dilakukan demi mencegah merebaknya radikalisasi di negara bekas Uni Soviet tersebut. Tajikistan sendiri menganut sistem pemerintahan sekuler. Sebelumnya, otoritas Kota Khatlon memaksa sekira 13 ribu pria dewasa untuk memotong jenggot mereka. Otoritas menganggap jenggot tersebut tidak sesuai “kualifikasi” dan harus ditertibkan. Aksi itu juga dilakukan untuk mencegah paham radikalisasi yang masuk dari negara lain ke Tajikistan.Seperti dimuat Washington Post, Selasa (23/82016), otoritas Khujand merilis data lebih dari 600 perempuan yang mengenakan hijab. Mereka mengaku tidak ada masalah dengan hijab, tetapi tidak setuju jika hijab dianggap sebagai ukuran ketaatan terhadap agama Islam. Tajikistan sendiri adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Namun, Presiden Imomali Rakhmon memiliki ketakutan terhadap Islam garis keras. Sebab, pada 1997 ia hampir tewas dalam aksi percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh kalangan Islam garis keras. Dilansir dari laman okezone.comTajikistan bahkan menerbitkan sejumlah kebijakan ketat mengenai praktik beragama. Mereka menjatuhkan denda bagi perempuan yang mengenakan hijab, menakut-nakuti anak kecil agar tidak sembahyang, serta mengancam orangtua untuk tidak memberikan nama berbau Arab kepada anak yang baru lahir. Negara yang terletak di Asia Tengah itu diketahui sebagai negara paling miskin di antara bekas Uni Soviet lainnya. Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan radikalisasi. Tajikistan juga berada di jalur yang tepat sebagai tempat persembunyian bagi kelompok militan Islam dari Asia Tengah.(Fit)