MATATELINGA. Ketidakmampuan penderita menjaga keseimbangan badan. Penderita vertigo bakal mengalami keadaan seperti berputar atau melayang.Sakit vertigo sering kali dibarengi gejala mual dan muntah, kondisi ini bahkan bisa membuat penderitanya mengalami kesulitan berdiri atau berjalan. Salah satu jenis sakit kepala yang sangat dirasakan efeknya adalah vertigo, penyakit vertigo ini di akibat gangguan pada sistem vestibular.Tapi ternyata ada cara yang cukup sederhana untuk meredakan sakit vertigo. Caranya melalui gerakan kepala dan badan.
Baca Juga:Geger! Warga di Dua RT Kecarunan Masal Usai Tukar Makanan untuk Buka PuasaCara ini berdasarkan pedoman baru yang dikembangkan peneliti dari American Academy of Neurology. Mereka menemukan pengobatan termudah dan tercepat untuk vertigo.Pedoman tentang benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), gangguan telinga bagian dalam yang merupakan penyebab umum pusing, telah diterbitkan dalam jurnal Neurology edisi 27 Mei 2008.Gangguan tersebut menyebabkan perasaan berputar atau berputar saat kepala digerakkan dengan cara tertentu, seperti melihat ke atas atau menekuk. Perasaan itu berlangsung sebentar tetapi bisa parah.Pedoman tersebut menetapkan bahwa dalam banyak kasus, vertigo dapat diobati dengan manuver sederhana berupa serangkaian gerakan kepala dan tubuh."Kabar baiknya adalah jenis vertigo ini mudah diobati," ungkap penulis pedoman Terry D Fife MD dari University of Arizona College of Medicine dan Barrow Neurological Institute, sebagaimana dilansir oleh wartawan.[br]"Daripada memberi tahu pasien untuk menunggu atau meminta mereka minum obat, kami dapat melakukan perawatan yang aman dan cepat yang langsung dan efektif," tambah Fife yang juga anggota dari American Academy of Neurology.Panduan tersebut menemukan bahwa prosedur reposisi kanal, juga disebut manuver Epley, aman dan efektif untuk orang-orang dari segala usia. Manuver Semont mungkin merupakan pengobatan yang efektif. Untuk mengembangkan pedoman ini, penulis menganalisis semua studi ilmiah yang tersedia tentang topik tersebut.
Baca Juga:Wali Kota Medan dan Kapolrestabes Medan Lepas Petugas Penyemprotan Disinfektan Skala BesarGangguan tersebut diyakini disebabkan oleh kristal kalsium karbonat lepas yang bergerak di tabung penginderaan telinga bagian dalam. Manuver tersebut memindahkan kristal kalsium keluar dari tabung penginderaan dan ke ruang dalam telinga lainnya, dari mana kristal tersebut dapat diserap.Pedoman tersebut juga mengevaluasi apakah pembatasan aktivitas diperlukan setelah manuver dilakukan.[br]"Tidak ada bukti yang jelas untuk mendukung pembatasan ini, termasuk tidur tegak dan mengenakan kerah serviks," jelas Fife.Pedoman tersebut juga meninjau apakah pasien dapat melakukan manuver dengan aman dan efektif di rumah."Memiliki pasien yang merawat dirinya sendiri dengan menggunakan senam di rumah tampaknya menimbulkan sedikit risiko, tetapi tidak ada cukup bukti bahwa ini seefektif manuver yang dilakukan oleh dokter atau terapis," pungkasnya. (Mtc/Okz))