Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Wisatawan Lokal Mulai Melirik Lokasi Pemandian Aek Siparau - Padang Nabidang Kabupaten Labuhanbatu Utara

Wisatawan Lokal Mulai Melirik Lokasi Pemandian Aek Siparau - Padang Nabidang Kabupaten Labuhanbatu Utara

Yasmir - Minggu, 05 Februari 2023 16:44 WIB
Matatelinga.com
Pemandian alam  Aek Siparau.
MATATELINGA, Desa Pematang, Labuhanbatu Utara - Wisatawan lokal dari Kabupaten Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu, Padanglawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, beberapa tahun terakhir mulai melirik lokasi wisata alam pemandian Aek Siparau, Padang Nabidang, Desa Pematang, Kecamatan Nasembilan-sepuluh, Kabupaten Labuhanbatu Utara.

Setiap hari libur, Sabtu dan Minggu, pemandian alamAek Siparau ini, ramai dikunjungi warga. Lokasi wisata pemandian alam ini, berada di rerimbunan hutan lereng Bukit Barisan serta dikelilingi kebun karet dan sawit milik masyarakat sekitar.Daerah Padang Nabidang, Desa Pematang, berdekatan dengan Desa Tanjung Medan, Kecamatan Bilah Barat serta beberapa desa lainnya, di Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padanglawas Utara.Daerah ini sangat sejuk. Karena berada ratusan meter dari permukaan laut. Airsungainya jernih, belum tercemar sama sekali. Situasi ditempat ini benar-benar asri. Airnya sejuk. Disertai hembusan angin sepoi-sepoi. Didalam sungai banyak bebatuan.Namun sayang, kondisi jalannya belum baik. Belum ada pengerasan. Belum mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara. Jalannya penuh dengan bebatuan.Para wisatawan yang hendak berkunjung ketempat ini, khususnya yang datang dari arah Aekkanopan, Labuhanbatu Utara maupun Rantauprapat, Labuhanbatu, masuknya dari arah pemandian alam Aekburu, Kecamatan Bilah Barat.Desa Pematang, sebagai lokasi wisata alam Aek Siparau, memiki nilai sejarah dan legenda yang perlu mendapatkan pengkajian lebih mendalam.Menurut cerita warga masyarakat setempat,seperti yang ditulis di lamanWiki Pedia Indonesia, sekitar tahun 1700-an, datang 2 (dua) orang dengan sebutan "sibuka huta (pembuka kampung)" ke daerah ini.

[br]

Dua orang itu bernamaNagaramba danTakki Nabolon. Keduanya bertempat tinggal berjauhan dan membuka perkampungan, dengan daerah kekuasaan masing-masing.1.Nagarambatinggal di Padang Nabidang, dengan daerah kekuasaan sampai ke Siria-ria, Aek Badingin, Huala Pinarik dan daerah Sigabu.2.Takki Nabolondi Napompar dengan daerah kekuasaan sampai ke Sigatal, Napompar Jae, Sopolongat dan Sitanding (Hajoran).Tahun 1800-an terjadi revolusi di Indonesia. Ketika itu, terbentuklah kerajaan di berbagai wilayah Indonesia. Diprakarsai Belanda.Salah satu diantaranya, dibentuk Kesultanan Bilah di Negeri Lama. Sultan Bilah kala itu, bernama Sultan Bidar Alamsyah.Setelah itu, dalam beberapa tahun kemudian Kesultanan Bilah menguasai daerah sampai ke Padang Nabidang dan Napompar. Ditempat ini dibentuk dan dilantik 2 (dua) orang raja.

Dua raja itu, yakni : 1. Raja Jatorop anak dari Nagaramba, bertempat tinggal di Padang Nabidang (Makam Raja saat ini ada di Padang Nabidang).2. Raja Jaummaha, anak dari Takki Nabolon. Tinggalnys di Napompar (Makam Raja Jaummaha saat ini masih ada di Napompar).Kedua Raja tersebut, memimpin rakyatnya masing-masing turun-temurun sampai dengan 7 (tujuh) keturunan. Sampai pada keturunan yang ke-7, di Padang Nabidang lahir seorang anak raja, setelah dewasa diberi gelar Baginda Mahodum Nunthe.Di Napompar lahir pula seorang anak raja, dan setelah dewasa diberi gelar Patuan Juhar Munthe.Sekitat 350 tahun, Indonesia menjadi jajahan Inggeris, Portugis, Belanda dan Jepang. Dan pada tahun 1945 tepatnya tanggalb17 Agustus, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Setelan Indonesia merdeka, sistem pemerintahan berubah.Dan pada saat itu, berpisahlah Sigabu, Huala Pinarik, dan Aek Badingin dari Kerajaan Padang Nabidang. Kemudian bergabung dengan Desa Tanjung Medan. Dengan syarat membayar tanggal parambit (perpisahan kerajaan). Namun nilainya tidak diketahui.Atas kesepakatan 2 (dua) orang raja yang masuk dalam Raja IX, yaitu Raja Sulong Munthe (Padang Nabidang) dan Raja Yaman Munthe (Napompar), diprakarsai Camat bernama Raja Bagari Ritobga. Maka digabunglah 2 kerajaan tersebut menjadi 1, dengan sebutan desa yaitu Desa Pematang.Dengan alasan, daerah Pematang merupakan pintu masuk menuju desa yang terjadi pada tahun 1949 dan dikepalai oleh Lurah atau Kepala Kampung.Kepala Kampung yang dihunjuk pertama kali, adalah Mara Saiman Munthe sebelum diadakan pemilihan.Setelah diadakan pemilihan pada tahun 1955, terpilih jugalah kembali Mara Saiman Munthe sebagai Kepala Desa pertama Desa Pematang. (yasmir)

Editor
: Putra

Tag:

Berita Terkait

Lifestyle

Truk Muatan Batu Bata Terjun Ke Sungai Aek Sibatu Landit

Lifestyle

PRSU Ke-50 Targetkan 300 Ribu Pengunjung, Jadi Momentum Penguatan Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Sumut

Lifestyle

Polres Simalungun Kerahkan Seluruh Kekuatan Pengamanan Akhir Pekan: Patroli Objek Vital, Pengamanan SPBU, hingga Wisata Parapat

Lifestyle

Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Muara Bangko Sampaikan Tuntutan Kepada PT.RFAP

Lifestyle

Long Weekend, Satlantas Polrestabes Medan Fokus Amankan Jalur Wisata

Lifestyle

Polda Sumut Sita 9 Aset Mantan Pejabat BNI Aek Nabara