MATATELINGA, Medan : Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang lalu-lalang di kawasan Masjid Al-Jihad, Jalan Abdullah Lubis, Medan, berdiri tegak seorang pria bersahaja. Di lehernya tergantung peluit kecil, yang ia tiup pelan setiap kali membantu kendaraan mencari tempat parkir. Dialah Pak Ane, 53 tahun, tukang parkir yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri menjaga ketertiban di jalanan itu.
Meski tak berseragam resmi atau bergaji tetap, sosok Pak Ane begitu dikenal dan dihormati di kawasan masjid. Dengan senyum ramah dan sikap sabar, ia membantu pengendara tanpa pernah meminta lebih. Namun di balik kesederhanaan itu, ada beban berat yang ia pikul setiap hari.
BACAJUGAhttps://www.matatelinga.com/Berita-Sumut/wagub-surya-dan-anggota-dpd-ri-asal-sumut-bahas-aspirasi-terkait-tiga-uu
Setiap harinya, Pak Ane rata-rata mengantongi sekitar Rp70.000 dari jasa parkir. Tapi dari jumlah itu, ia justru harus menyetor Rp100.000 ke Dinas Perhubungan. Ketika pendapatan tak mencukupi, ia harus berutang�"mencatat kekurangan dan berharap hari berikutnya bisa menutupnya.
[br]
“Kadang enggak cukup. Kalau memang enggak sampai segitu, ya saya ngutang dulu ke Dishub. Dicatat, nanti kalau ada lebih baru saya bayar,” ujarnya dengan nada santai, seolah beban itu bukan sesuatu yang patut dikeluhkan.
Pak Ane tinggal seorang diri di sebuah rumah kecil di kawasan Setiabudi. Tak memiliki anak dan hidup dalam kesunyian, ia memilih tetap bekerja demi menjaga tubuhnya tetap aktif dan pikirannya tetap waras. “Daripada di rumah aja, mending kerja. Biar badan enggak kaku,” tuturnya sambil tertawa ringan.
Cerita hidup Pak Ane mencerminkan realitas yang dialami oleh banyak pekerja informal di kota besar�"mereka yang bekerja keras demi penghidupan, namun harus berhadapan dengan sistem yang sering kali tak berpihak. Tanpa perlindungan, tanpa jaminan, namun tetap berdiri teguh dalam kejujuran dan ketulusan.
Peluit kecil di leher Pak Ane bukan sekadar alat kerja. Ia adalah simbol perjuangan sunyi yang terus bersuara, meski sering tak terdengar. Di balik terik matahari dan derasnya hujan, di antara tekanan hidup yang tak ringan, Pak Ane tetap berdiri. Menjaga, melayani, dan bertahan.
Karena bagi sebagian orang, hidup bukan tentang seberapa besar yang didapat, tapi seberapa kuat untuk terus melangkah, walau perlahan.
Penulis : Ghina Septika
Nim: 0603222166
Ilmu Komunikasi
UINSU.