MATATELINGA - "Kalau kepedulian itu kita bangun dari diri kita sendiri, saya yakin dan percaya untuk membangun kolaborasi antar semua elemen pasti tidak sulit, karena modal dasarnya adalah kepedulian," kata Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen dalam sebuah kesempatan.
Karena kepeduliannya, sampai hari ini
Wong Chun Sen tetap komitmen dan konsisten dalam mengawal tumbuh kembang anak-anak penderita gizi buruk atau stunting dan anak yang menderita hidrosefalus.
Baca Juga: Pemprov Sumut Tegaskan Probis-UHC, Warga Cukup Tunjukkan KTP untuk Berobat Wong Chun Sen pertama kali menaruh kepedulian terhadap anak penderita stunting dan hidrosefalus adalah pada saat menggelar kegiatan reses di Kecamatan Medan Tembung, sekitar 5 tahun lalu saat itu belum memegang amanah sebagai Ketua DPRD Kota Medan, ada warga yang melaporkan salah satu keluarga yang memiliki anak kurang gizi.
Setelah reses usai, Wong langsung menuju rumah warga yang anaknya menderita stunting. Di awal kepeduliannya, Wong rutin memberikan bantuan berupa makanan tambahan, susu dan vitamin. Seiring waktu berjalan, jumlah anak yang mendapat perhatian khusus dari
Wong Chun Sen semakin bertambah..
Setiap kali melakukan kunjungan dan melihat langsung tumbuh kembang anak stunting dan hidrosefalus, Wong selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi dan berdialog dengan orang tua anak penderita gizi buruk yang kondisi perekonomiannya sangat sulit.
Baca Juga: Bupati Deli Serdang Dorong Akselerasi Akses Keuangan dan Digitalisasi Ekonomi Masyarakat Saat mengunjungi Jehan Arisa Pakpahan (5), yang berada di Jalan Mustapa Gang 7, Lingkungan XI dan XII, Kelurahan PBD I, Kecamatan Medan Timur. Jehan diketahui masih berjuang melawan stunting dengan kondisi kesehatan yang memprihatinkan dan belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Ibunda Jehan, Siska Melfi Putri, mengungkapkan bahwa putrinya hingga kini masih harus menjalani perawatan intensif dan kerap keluar masuk rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi keluarga yang terus berupaya memberikan perawatan terbaik.
Baca Juga: Lapas Kelas IIA Pancur Batu Gelar Pekan Olahraga, Donor Darah serta Cek Kesehatan Gratis Melihat kondisi tersebut,
Wong Chun Sen menyampaikan rasa prihatin sekaligus memberikan motivasi kepada keluarga agar tetap tabah dan tidak menyerah dalam mendampingi proses pengobatan Jehan. Ia juga menyerahkan bantuan berupa susu dan vitamin untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak tersebut.
Usai dari Medan Timur, Wong melakukan kunjungan ke rumah Adriel Delano Siagian (5) di Jalan Gurila, Kecamatan Medan Perjuangan. Berbeda dengan Jehan, kondisi kesehatan Adriel dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan yang cukup baik setelah menjalani berbagai upaya pengobatan dan perawatan.
Pada kesempatan itu, Wong menyerahkan bantuan berupa susu, vitamin, dan pampers kepada orang tua Adriel. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung proses pemulihan kesehatan anak.
Baca Juga: Bobby Nasution Siapkan Beasiswa Mahasiswa Poltekkes Gunungsitoli, Dukung Lahirnya Tenaga Kesehatan Kepulauan Nias Kunjungan berikutnya dilakukan ke rumah Asyifa Amelia (13) di Jalan Pimpinan Gang Langgar, Kelurahan Sei Kera, Kecamatan Medan Perjuangan. Asyifa diketahui menderita hidrosefalus, yaitu kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang memengaruhi fungsi otak dan menyebabkan keterbatasan dalam beraktivitas.
Saat ini, Asyifa masih terbaring di tempat tidur dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kedua orang tuanya untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Melihat kondisi tersebut, Wong menyerahkan bantuan berupa susu, vitamin, serta popok sekali pakai guna membantu meringankan beban keluarga dalam merawat Asyifa.
Kunjungan terakhir dilakukan ke kediaman Afia Indira Putri (5) di Jalan Pertiwi Gang Kesuma Nomor 10, Kecamatan Medan Tembung. Dalam pertemuan tersebut, nenek Afia yang sehari-hari merawat cucunya menyampaikan bahwa kondisi kesehatan Afia mengalami perkembangan positif dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Wasbang di Kelurahan Indra Kasih, Wong Chun Sen Gelorakan Kembali Semangat Gotong Royong Mendengar kabar tersebut, Wong mengaku bersyukur dan berharap kondisi Afia terus membaik hingga dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak seusianya. Ia juga menyerahkan bantuan berupa susu, vitamin, dan kebutuhan pokok sebagai bentuk dukungan kepada keluarga.
Menurut Wong, sebagai wakil rakyat ia memiliki tanggungjawab untuk peduli terhadap 'suara' rakyat, termasuk keluarga yang membutuhkan pertolongan dan ingin mendapatkan akses layanan kesehatan. Di sela-sela kunjungannya ke rumah penderita stunting, Wong Chun Sen menegaskan bahwa persoalan stunting dan penyakit kronis pada anak tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga: APMF 2026 Dorong Industri Beralih dari Kampanye ke Kolaborasi Jangka Panjang Menurutnya, sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi sosial, dunia usaha, dan masyarakat harus terus diperkuat agar upaya pencegahan stunting serta penanganan anak-anak dengan penyakit kronis dapat berjalan lebih optimal.
"Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus mendapatkan perhatian dan perlindungan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka memperoleh gizi yang cukup, pelayanan kesehatan yang baik, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, sesuai dengan yang diamanatkan undang-undang serta Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan No. 6 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan dan Perlindungan Anak," ujar Wong.
Secara khusus, Wong menyampaikan bahwa penderita stunting tidak serta merta berasal dari keluarga yang kurang mampu, bahkan keluarga yang berkecukupan sekalipun bisa terdeteksi menderita gizi buruk. Kenapa? Karena orang tuanya tidak memiliki pengetahuan dan tidak mendapat edukasi yang tepat terkait pemenuhan gizi anak.
Baca Juga: BTN dan BRIN Bangun Kolaborasi Pacu Inovasi Berkelanjutan Itu sebabnya, selain sinergi dan kolaborasi penting juga menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih. Mengedukasi keluarga muda dalam pemenuhan gizi buah hatinya. Bukan asal memilih makanan dan memberikannya pada anak, sementara kecukupan dan kebutuhan gizinya tidak seimbang.
Gizi Cukup dan SeimbangBerbicara tentang pemenuhan gizi seimbang, bagi Nelly Gustina (47) salah seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak putri di Medan mengaku tak perlu harus mahal dan tak perlu harus yang 'aneh-aneh' untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak.
"Dua anak saya, Acle (25) dan Abigail (22) saat ini sudah dewasa dan sudah bekerja. Kalau dulu, waktu sekolah dari TK sampai SMA 'bontot' atau bekal makan siangnya selalu saya siapkan. Pilihannya beragam, terkadang nugget, bakso atau mekanan beku lainnya yang mudah diolah. Terkadang, ikan segar dan sayur segar, yang pasti setiap sore saya sudah harus menyiapkan bahan baku untuk dimasak keesokan paginya buat bekal mereka," paparnya.
Baca Juga: Wagub Surya Ajak Generasi Muda Bangun Integritas dan Jauhi Narkoba Bagi Nelly Gustina, stok makanan beku seperti bakso, daging ayam beku atau nugget di dalam kulkas menjadi pilihan paling simpel dan cepat. Tinggal digoreng atau direbus, kebutuhan gizi, khususnya protein hewani tetap terpenuhi.
"Produk makanan beku atau frozen food dari Japfa menjadi pilihan Nelly sejak anak-anak TK sampai mereka dewasa dan sudah bekerja. Selain sudah 'akrab' dengan rasanya, frozen food Japfa juga ikut mendampingi tumbuh kembang anak saya sampai dewasa," katanya.
Baca Juga: Wong Chun Sen Ingatkan Warga Kota Medan Agar Bijak Dalam Menggunakan Media Sosial Makanan beku berkualitas bisa menjadi pilihan dalam pemenuhan gizi anak
Sekarang, lanjut Nelly setelah mereka bekerja pun selalu dibekali bontot dari rumah. Kebiasaan seperti ini dilakukan untuk mengedukasi dan mendisiplinkan anak agar tidak makan sembarangan di luar rumah. Kebiasaan membawa bekal juga mengajari anak disiplin dalam mengelola keuangannya.
"Paling tidak, edukasi yang kita berikan sejak dini bisa menjadi bekal mereka di kemudian hari dalam mempersiapkan generasi berikutnya," tandasnya.
Baca Juga: Latma Pacific Partnership 2026 di Sibolga Ditutup: Perkuat Kolaborasi Kemanusiaan Internasional Bagi Nelly, sepanjang perjalanan merawat anak hingga akhirnya tumbuh menjadi dewasa bukan perkara mudah. Keberadaan gawai dengan fasilitas jaringan internet memberikan kesempatan kepada ibu rumah tangga mendapat pengetahuan tambahan tentang pemenuhan gizi seimbang bagi anak.
"Pemenuhan gizi seimbang bagi tumbuh kembang anak bisa kita peroleh lewat berselancar di dunia maya, beragam makanan beku yang berkualitas juga bisa kita peroleh di supermarket, tinggal bagaimana kita mengolah dan menyikapinya agar sajian tersebut tidak membosankan bagi anak," paparnya.
Baca Juga: Bobby Nasution Harapkan Entry Meeting Ombudsman Jadi Instrumen Evaluasi Pelayanan Publik Guru Besar Universitas Sari Mutiara Indonesia Prof. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes menyampaikan bahwa pemenuhan gizi seimbang bagi anak perlu mempertimbangkan betapa pentingnya asupan protein hewani, khususnya untuk anak berusia di bawah dua tahun.
"Pemberian protein hewani pada anak memegang peranan penting meningkatkan kecerdasan anak. Kalau anak-anak kita ingin sehat dan pintar, mereka tidak boleh kekurangan gizi, harus diberikan makanan pendamping ASI kaya protein hewani bisa telur, ikan, daging, supaya gizinya tidak kurang," papar Ivan Elisabeth Purba.
Protein hewani juga mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan. Dalam tubuh manusia membutuhkan sebanyak 20 jenis asam amino esensial, sembilan diantaranya hanya bisa didapatkan dari makanan. Makanan dengan kandungan asam amino yang lengkap hanya ditemui pada panganan protein hewani.
Baca Juga: Bobby Nasution Apresiasi CKG Gojek, Dorong Jaminan Kesehatan Mitra Diperkuat Lebih lanjut Ivan Elisabeth Purba menyampaikan setelah pemenuhan gizi dan protein hewani anak terpenuhi, orang tua juga harus memantau kenaikan berat dan tinggi badan anak secara berkala.
"Hindari kebiasaan makan junk food yang menyebabkan anak kelebihan gizi dan cenderung mengalami pertumbuhan berat badan yang berlebihan (obesitas). Memilih makanan yang kaya akan gizi, mengandung protein dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh tak perlu harus mahal. Bahan bakunya ada di sekitar kita dan bisa dioleh sesuai dengan selera kita," tegasnya.
Dalam sebuah kesempatan, Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA menyampaikan tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5-12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Baca Juga: Beralih ke Kompor Listrik Berpotensi Kurangi Gejala Asma hingga 70 Persen Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.
Hingga tahun 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa.
Baca Juga: Kahiyang Ayu Pastikan Anak Berkebutuhan Khusus dapat Kehidupan yang Layak Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.
"Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten," ujar Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA.
"
Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Kami berharap sinergi antara dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa," tandas Rachmat.
Baca Juga: Wong Chun Sen : Karena Serap Aspirasi Adalah Bagian Dari Fungsi Legislasi Komitmen dan Langkah NyataKepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Faisal Hasrimy dalam sebuah kesempatan mengungkapkan fakta yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi balita pendek dan sangat pendek di Sumatera Utara mencapai 22%, lebih tinggi dari angka nasional sebesar 19,8%. Angka wasting di Sumut juga tercatat sebesar 9%, sementara nasional 7,8%. Untuk underweight, Sumut mencatat angka 17,7%, sedikit lebih tinggi dari nasional yang berada di 16,9%.
"Masalah stunting dan wasting ini masih menjadi persoalan kesehatan serius karena berada di atas ambang batas WHO. Ini tidak bisa ditangani secara parsial. Kita butuh sistem yang kuat dan informasi yang akurat," katanya.
Faisal berharap dengan adanya pertemuan rutin dan rapat koordinasi dengan berbagai stakeholder menjadi forum diskusi terbuka dalam mengidentifikasi hambatan dan kendala di daerah yang menyebabkan rendahnya capaian intervensi spesifik gizi.
Baca Juga: Pasca Ledakan di Grand Poionia Medan, Wong Chun Sen Dukung Polrestabes Medan Ungkap Penyebab Ledakan Komitmen dan langkah nyata adalah wujud dari koordinasi dan kolaborasi Harus dimulai dari data yang benar, strategi yang selaras, dan komitmen yang menyeluruh dalam roadmap percepatan penurunan stunting Provinsi Sumatera Utara, yang menempatkan pengelola program gizi sebagai ujung tombak dalam transformasi layanan gizi berbasis bukti dan responsif terhadap tantangan lokal.
Bagi Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen, sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha dan masyarakat akan memudahkan kita dalam mengatasi permasalahan anak kurang gizi di negeri ini.
Baca Juga: Dua Lembaga Penegak Hukum di Palas Bangun Sinergitas "Membangun sinergi dan kolaborasi sesungguhnya tidak sulit, asal kita memiliki kepedulian mau duduk bersama dengan satu tekad, satu tujuan mengawal tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa ini di masa yang akan datang," tegasnya.
Selain sinergi dan kolaborasi, Prof. Sandra Fikawati menilai edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media.
"Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, serta pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini," ujar Prof. Sandra Fikawati.
Baca Juga: Bobby Nasution Serap Aspirasi Warga Nias Barat, Beri Solusi Langsung untuk Nelayan hingga Infrastruktur Sinergi, kolaborasi dan edukasi menjadi kata kunci untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Pendidikan bermutu mencetak SDM unggul, sementara kerja sama erat antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat memastikan pemerataan dan daya saing bangsa di tingkat global.
Baca Juga: CHILL Edukasi Ratusan Siswa SMPN 4 Tanjung Morawa Jauhi Narkoba