Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Serunya, Makan Di Sini Gak Pakai Piring!

Serunya, Makan Di Sini Gak Pakai Piring!

Admin - Selasa, 04 Februari 2014 09:24 WIB
Matatelinga - Jakarta, ada yang lebih menyenangkan saat makan seafood bisa menggunakan tangan dengan bebasnya, juga tanpa dibatasi ukuran piring. Pengalaman tersebut dapat Anda rasakan di restoran Holy Crab.Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika melihat berbagai pesanan seafood tersaji di atas meja tanpa piring? Inilah yang dilakukan restoran Holy Crab saat menyuguhkan pesanan para tamunya. Hidangan yang dipesan diletakkan begitu saja di atas meja, lalu Anda bisa bebas makan tanpa keharusan menyingkirkan piring, sendok, dan garpu saat memisahkan bagian seafood yang tidak dimakan.Memang diletakkan di atas meja, namun ada kertas khusus seukuran meja yang Anda pilih untuk mengalasinya. sumber sempat menyambanginya, sebelum restoran ini dibuka untuk umum mulai hari ini, Senin, 3 Februari 2014. Kami memilih meja berisi empat kursi. Tak lama, seorang pelayan datang menyelimuti meja kami dengan kertas putih besar yang food safety alias aman untuk makanan.Tak lama, hidangan yang kami inginkan datang, yang dibawa menggunakan plastik makanan transparan oleh pelayan. Dia kemudian meletakannya di atas meja seraya memberikan sea sheller, alat untuk membuka cangkang kepiting. Sebelum bicara lebih jauh tentang menu lezatnya, sang pemilik sekaligus Executive Chef restoran Holy Crab, Albert Wijaya menemani kami sambil menjelaskan konsep unik cara para tamu makan di restoran besutannya.“Saya terinspirasi dari Lousiana seafood style, makanan dihidangkan langsung di atas meja, enggak pakai piring,” katanya kepada sumber saat ditemui di restonya yang beralamat di Gunawarman No.55 Jakarta Selatan, baru-baru ini.“Saya sempat sekolah di Amerika, makan di resto lousiana style seperti ini. Saya rasa, ini belum ada di Indonesia, makanya kemudian saya bawa supaya masyarakat bisa mencicipi,” tambahnya.Dengan gaya tersebut, Albert membawa cara makan tidak biasa kepada para tamu. Dengan inspirasi gaya tersebut juga, olahan kepiting dieksplorasi lebih dalam dan siap menjadi kepuasan tersendiri bagi para penikmat seafood. Menurut Albert, penduduk Lousiana sering mengonsumsi menu berbahan kepiting karena memang menjadi salah satu kota penghasilnya.Bicara soal menu, pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah kuliner AS ini mengatakan bahwa olahan kepiting ala Lousiana lebih banyak menggunakan mentega dan bawang putih sebagai kekuatan rasanya. Namun, dia meraciknya lagi dengan bumbu khusus demi menyesuaikan lidah masyarakat Indonesia kebanyakan.“Untuk ini, saya buat lebih pedas, juga campuran rempah-rempahnya lebih banyak, lebih dari 15 jenis,” ungkapnya.Dungeness crab, misalnya, yang menjadi menu andalan Holy Crab. Kepitingnya biasa hidup di perairan yang dingin dan memiliki cangkang lebih tipis dibandingkan kepiting lokal, ini hanya diolah dengan direbus sebentar lalu dimasak dengan saus spesial racikannya. “Karena basicly kita pakai seafood bagus, tanpa banyak bumbu sebenarnya kepiting ini mengeluarkan citarasa sendiri. Dan ternyata jadi lebih nikmat kalau diberi bumbu lebih banyak,” ujarnya.Albert mendatangkan kepiting langsung dari Amerika Serikat, Kanada, dan Alaska demi menjaga kualitas hidangan. “Seafood lokal juga banyak yang berkualitas, tapi kita lebih mempertimbangkan penangkaran seafood yang tidak merusak lingkungan, juga dijamin segar,” jelasnyaMenu yang sempat kami cicipi adalah snow crab dan shrimp. Keduanya digabungkan bersama potongan jagung manis rebus dan sosis dengan saus yang melimpah dan terlihat menggoda. Kami segera merobek plastik pembungkusnya.Bawang putih cincang segera bisa kami temukan pada saus sebagai bumbu yang mendominasinya, juga lelehan mentega yang membuat saus ini terasa kian gurih. Lainnya terasa banyak rempah berpadu apik di lidah. Dengan level pedas medium, bagi kami cukup untuk bumbu lainnya bisa ditelusuri dengan lidah. Bila ingin lebih pedas, tersedia pilihan level mild hingga holy moly alias superpedas. Disediakan pula pelengkap berupa saus cabai, saus tomat, lada bubuk, dan garam halus.Albert membantu kami untuk membuka cangkang kepiting yang ternyata tidak keras ini. “Selagi makan, bagian seafood yang tidak termakan bisa diletakkan di samping tangan seraya asyik memilih seafood lain di plastik,” tuturnya.Menu-menu lain yang ditawarkan, seperti king crab legs sebagai menu termahal di Holy Crab, snow crab legs, dan lobster yang seasonal price atau berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Juga ada blue crab, mud crab, shrimp, dan clams yang ditawarkan mulai Rp20 ribu-45 ribu per 100 gram. Untuk pilihan menu camilan, ada crispy fish fingers, crispy chicken strips, deep fried calamari, deep fried chicken wings, onion rings, sausage, sweet corn, cajun fries, sweet potato fries, dan steamed rice mulai harga Rp15 ribu sampai Rp60 ribu per porsi.“Untuk minuman, normal saja karena lebih spesifik pada crab. Hanya mineral water, soft drink, hot tea, dan bir. Kami punya suguhan spesial, yaitu frosted beer, di mana bir yang disimpan pada suhu tertentu sehingga menjadi semi beku ketika dihidangkan kepada para tamu,” tambahnya.Restoran Holy Crab berdaya tampung sekitar 130 orang, terbagi menjadi dua lantai dan semuanya non-smoking area. Tersedia pula dua semi private room; dengan kapasitas 10 orang dan 30 orang. Albert menjamin kenyamanan para tamu lewat interior ruangan yang dibuat cozy. Ornamen yang menjadi pengisinya siap membawa Anda bak berada di tempat pelelangan ikan, tentu tanpa bau amis. Materialnya berupa bata, seng, juga kayu yang terkesan tidak kaku.“Fasilitas WiFi akan kami sediakan, tetapi kami tidak sarankan. Karena makannya akan berantakan dan supaya tamu bisa lebih menikmati makan,” ujarnya.Yang lebih menarik, Anda bisa meminjam tongsis alias tongkat narsis di meja kasir saat ingin berfoto bersama teman makan. So, Anda tidak perlu ribet memikirkan sudut tepat untuk menempatkan kamera ponsel. Momen ini tidak boleh dilewatkan, apalagi di Holy Crab, yang menawarkan pengalaman makan tidak biasa. Sebenarnya, bila tidak ingin memakai tongsis, Anda juga bisa meminta bantuan pelayan.“Pelayan sudah kami training supaya bisa mengambil foto dengan cara dan sudut yang baik,” pungkasnya.Holy Crab buka mulai pukul 17.00-22.00 WIB setiap Senin hingga Jumat dan pukul 12.00-22.00 pada Sabtu dan Minggu.(Okc/KNIA)


Tag:

Berita Terkait

Lifestyle

Lima Buah Segar di Konsumsi di Pagi Hari

Lifestyle

Peserta Uji Ahli K3 Umum Ungkap Pentingnya Kompetensi K3 di Dunia Industri

Lifestyle

Kolaborasi USM Indonesia dengan Dinas Kesehatan Gelar CKG, Targetkan 2000 Warga Ikuti Tes Kesehatan

Lifestyle

UPT Puskesmas Medan Labuhan Luncurkan "Sipungkas", Jemput Bola Pastikan Warga Sehat

Lifestyle

Kolaborasi Korpri dan Biofarma, ASN Sumut Antusias Ikuti Vaksinasi HPV

Lifestyle

'Ekspansi Bisnis Kecantikan, Vania Salon Resmi Buka Cabang Ke-3 di Medan'