Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Telah Diteliti, Berikut Alat Canggih Ini Bisa Prediksi "Kematian"

Telah Diteliti, Berikut Alat Canggih Ini Bisa Prediksi "Kematian"

Redaksi - Selasa, 02 April 2019 21:45 WIB
GOOGLE
Alat canggih komputerisasi dapat prediksi kematian dini
MATATELINGA: Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Nottingham, Inggris, mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dan mesin pembelajar (ML) dapat memprediksi kematian dini.Hasil penelitian terhadap lebih dari 500.000 berusia 40 hingga 69 tahun ini dapat merevolusi perawatan kesehatan berbasis pencegahan. Tim dokter dan pakar data perawatan kesehatan telah mengembangkan dan menguji sistem algoritma ML berbasis komputer untuk memprediksi risiko kematian dini akibat penyakit kronis. Semua pakar menyatakan algoritma mereka bekerja. "Sistem AI tidak hanya sangat akurat dalam memprediksi, tapi memiliki kinerja lebih baik, dibandingkan pendekatan standar saat ini," ungkap para pakar dalam penelitian itu, di lansir Forbes. Hasil studi itu dirilis oleh PLOS ONE dalam edisi koleksi spesial berjudul "Mesin Pem belajar dalam Kesehatan dan Biomedis."Universitas Nottingham masuk dalam 100 universitas terbaik di dunia dengan riset yang sangat intensif. Sebanyak 44.000 mahasiswanya mengikuti kuliah di sejumlah kampus Nottingham di Inggris, China, dan Malaysia.Dalam studi itu para peneliti di Nottingham menggunakan data kesehatan yang di kumpulkan dari orang yang direkrut dalam UK Biobank antara 2006 dan 2010 serta ditindaklanjuti hingga 2016. UK Biobank merupakan sumber utama nasional untuk riset kesehatan di Inggris, dengan tujuan memperbaiki pencegahan, diagnosis, dan perawatan untuk berbagai penyakit serius dan mengancam jiwa. Misalnya kanker, penyakit jantung, stroke, diabetes, arthritis, osteoporosis, kelainan mata, depresi, dan berbagai bentuk demensia. Sebanyak 500.000 orang yang terlibat dalam proyek itu menjalani berbagai pemeriksaan, memberikan sampel darah, urine, dan ludah untuk analisis masa depan, informasi rinci tentang diri mereka dan setuju kondisi kesehatannya di pantau. Para peneliti menyatakan me reka telah memajukan bidang AI dengan studi baru tentang prediksi kematian."Kami telah mengambil langkah besar ke depan dalam bidang ini de ngan mengembangkan pen de katan unik dan holistis untuk memprediksi risiko kematian dini seseorang, dengan mesin pembelajar," tutur Dr Stephen Weng, asisten profesor epidemiologi dan data sains di Universitas Not tingham."Perawatan kesehatan preventif terus menjadi prioritas dalam me merangi berbagai penyakit serius, sehingga kami harus bekerja beberapa tahun untuk memperbaiki akurasi penilaian risiko kesehatan terkomputerisasi pada populasi umum," papar Weng.Dia menambahkan, sebagian besar peserta penelitian fokus pada bidang penyakit tunggal. Memprediksi kematian karena beberapa penyakit berbeda sangat rumit, terutama dengan berbagai faktor lingkungan dan individu yang mungkin mempengaruhi mereka.Weng menerangkan, sistem yang dibuat timnya menggunakan sejumlah komputer untuk membangun model prediksi risiko baru yang mempertimbangkan demografi, biometrik, klinik, dan faktor gaya hidup pada setiap individu yang di nilai.Itu termasuk konsumsi diet harian peserta terhadap buah-buahan, sayuran, dan daging. "Kami memetakan hasil prediksi pada data kematian dari setiap kelompok, menggunakan catatan kematian Kantor Statistik Nasional, statistik rumah sakit, dan data kanker Inggris. Kami menemukan mesin pembelajar algoritma itu lebih akurat dalam memprediksi kematian dibanding kan model prediksi standar yang dikembang kan pakar manusia," ujar nya.Model kecerdasan buatan dan mesin pembelajar yang disebut "Random Forest" dan "Deep Learning" digunakan da lam studi itu. Mereka berbeda dengan model prediksi "Cox Regression" yang biasa digunakan berdasarkan umur dan gender. Cara sebelumnya ini kurang akurat dalam memprediksi kematian.Studi baru ini dibangun berdasarkan karya sebelumnya oleh tim dari Nottingham yang menunjukkan bahwa empat algoritma AI, yakni Random Forest, Logistic Regression, Gradient Boosting, dan Neural Networks memiliki hasil lebih baik dalam memprediksi penyakit kardiovaskuler dibandingkan algoritma yang digunakan saat ini dalam panduan kardiologi.(Mtc/Okz)

Editor
:
Sumber
: Okezone

Tag:

Berita Terkait

Lifestyle

Wartawan Matatelinga.com Raih Penghargaan PMI Labuhanbatu

Lifestyle

Matatelinga.com Meraih Juara Satu, Pembaca dan Pengunjung Terbanyak Pemberitaan Polda Sumut

Lifestyle

Sukseskan Gerakan ASRI, Forkopimda Sibolga Gotong Royong Massal Bersama Warga

Lifestyle

Dihantam Banjir Bandang Jalan Desa Kampung Mudik-Aek Dakka Barus Sudah Dapat Dilalui

Lifestyle

Ada Sembilan Faktor Menyebabkan Wanita Kanker Payudara, Ayo Baca Disini

Lifestyle

PWI Labuhanbatu Akan Gelar Konferensi IX, Panitia Pelaksana Terbentuk