Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Psikolog: Memahami Bahasa Cinta Jadi Kunci Keharmonisan

Psikolog: Memahami Bahasa Cinta Jadi Kunci Keharmonisan

Redaksi - Rabu, 17 April 2019 09:45 WIB
GOOGLE
Ilustrasi
MATATELINGA: Bukan lagi rahasia, memiliki hubungan percintaan dengan pasangan bule menuntut Anda untuk fasih dalam berbahasa Inggris. Kalau tidak bisa, bagaimana si doi bisa sayang dengan Anda?Bahasa yang berbeda tentu menjadi masalah yang harus dihadapi. Bahasa ibu yang sehari-hari Anda gunakan akan 'berkurang fungsinya dan tentu hal ini bukan sesuatu yang mudah. Anda harus terbiasa dengan perubahan budaya juga dan banyak hal lainnya.Berencana menikah dengan bule tentu harus dengan pemikiran yang sangat matang. Ini bukan lagi soal cinta, tetapi komitmen dan banyak hal lainnya yang harus diperhatikan. Tapi, jika Anda sudah memutuskan hubungan untuk menikah dengan bule, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan.Untuk membahas ini, awak media mewawancarai Psikolog Meity Arianty untuk membahas lebih lanjut bagaimana problematika pernikahan beda benua bisa tetap harmonis dan bagaimana menyelesaian masalah yang bisa disarankan seorang psikolog.Mei menjelaskan, yang harus dipersiapkan menikah dengan bule sebetulnya sama saja dengan pasangan sebangsa. Hanya saja, mungkin akan lebih banyak persiapan dengan banyaknya perbedaan."Ingat, menikah bukan hanya persoalan hati semata, yang sederhana aja dulu misal administratif atau surat-surat, biasanya relatif ribet tuh, kemudian hak-hak apa saja yang akan kita dapatkan nantinya itu juga perlu diketahui sebagai gambaran, apalagi bila punya anak nantinya," terang Psikolog Mei pada Okezone melalui pesan singkat.Lebih jauh, hal lain yang harus dipersiapkan adalah butuh kedewasaan dan kemantapan hati, karena menghadapi perbedan budaya itu bukan sesuatu yang mudah. Contoh sederhananya seperti ini, mereka yang bersuku Jawa menikah dengan suku Batak, misalnya, itu susah. Nah, apalagi ini orang Indonesia dengan orang asing.Tentu kendala bahasa menjadi hal utama, tapi kultur atau budaya, tata cara atau tradisi, sosial, dan karakter pun bisa menjadi sumber masalah yang mungkin membuat hubungan Anda dan pasangan terganggu."Semua itu bisa teratasi bila kita mempersiapkan mental atau psikologis yang matang. Lalu, yang penting dalam pernikahan sebenarnya kan bukan hanya saling mencintai, tapi harus siap secara psikologis," tambahnya.Mei coba menuturkan beberapa hal penting lainnya yang harus diperhatikan sebelum akhirnya Anda matang mau menikah dengan bule. Apa saja?1. Komitmen di awalPernikahan yang disepakat berdua dibangun atas dasar apa? Itu penting sehingga bila suatu hari ada masalah, Anda dan pasangan bisa kembali ke komitment awal tersebut.2. Saling menerima kekurangan masing-masing dan berusaha menghargaiBoleh membuat pasangan menjadi lebih baik, namun, tidak kemudian membuat pasangan menjadi harus seperti kita, biarkan pasangan tetap menjadi dirinya sendiri tapi dengan kondisi psikologis yang lebih baik dari sebelumnya.3. Perkuat komunikasiIni menjadi penting karena bisa membuat pasangan dapat mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Hal lain yang mesti digarisbawahi di sini ialah saling terbuka dan kedepankan penyelesaian masalah. Lalu, saling evaluasi diri agar sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang dewasa.4. Pahami bahasa cinta pasanganIni penting karena masing-masing dari kita itu punya bahasa cinta yang berbeda. Ini juga berlaku ke anak nantinya. Jangan sampai bahasa cinta Anda dan pasangan beda. Sebab, bisa menjadi masalah nantinya. Misal, pasangan kita lebih suka dilayani segala kebutuhannya, namun yang kita lakukan memberikan barang-barang sebagai tanda cinta. Kalau gini, namanya salah sasaran kan?5. Menyadari peran masing-masingAnda dan pasangan paham betul apa itu fungsi suami dan istri. Contoh kasusnya seperti ini, tidak ada masalah jika istri yang bekerja dan suami hanya di rumah. Ingat, setiap keluarga itu punya komitmen yang berbeda, itu adalah hak setiap pasangan. Namun, hal penting yang harus dicatat ialah suami tahu peran dia apa dan istri pun begitu. Jadi bisa menjalankan peran masing-masing sebagaimana mestinya. (Mtc/Okz)

Editor
:
Sumber
: Okezone

Tag:

Berita Terkait

Lifestyle

Gaya Hidup Sehat Remaja: Kunci Menciptakan Generasi yang Produktif dan Berkualitas

Lifestyle

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

Lifestyle

Halte Bus Listrik di Jalan Gatot Subroto: Solusi Transportasi atau Sumber Kemacetan Baru?

Lifestyle

Macet Hari Ini, Harapan untuk Medan Esok Hari

Lifestyle

Ini Dia Produk Varian Molto Yang Bisa Anda Dapatkan di Blibli

Lifestyle

Hari Lahir Pancasila: Di mana Peran Mahasiswa?