MATATELINGA, Medan: Berita tentang banjir bandang dan longsor di beberaoa wilayah di Aceh, ternyata menyisakan sebuah cerita menarik. Berkaitan dengan perintah Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf (Muallem), mengeluarkan perintah tegas agar semua ekskavator menghentikan aktivitas tambang ilegal di hutan Aceh dan menarik alat berat dalam dua minggu.
Mengancam tindakan tegas jika tidak diindahkan karena kerusakan hutan masif, yang merupakan bagian dari upaya penegakan hukum terhadap tambang emas ilegal.
Perintah keluarnya seluruh excavator yang menambang emas secara liar di Aceh membuat banyak orang terkagum-kagum tetapi ternyata ada kapal-kapal penambang emas yang berukuran raksasa beroperasi di sungai-sungai di Aceh.
Menurut Direktur Eksekutif Barisan Rakyat Pemerhati Korupsi (Barapaksi) Otti Batubara, berdasarkan amatan di lapangan bahwa wilayah kerja mereka adalah di seputaran SipotdanTutut, di daerah Woyla.
Baca Juga: Masyarakat Desak Polda Sumut Segera Panggil Mantan Bishop GMI Wilayah I Medan Terkait Perkara Penggunaan Gelar Akademik Palsu "Yang paling aneh adalah pekerjanya semua adalah orang-orang Vietnam. Kepala Operasi di sana bernama Dong. Bahasa Indonesianya tidak fasih. Dan dalam penyelidikan yang dilakukan ternyata terdapat informasi bahwa kapal keruk di sana telah berjumlah delapan dan bila kemaren tidak terjadi banjir dan longsor, mungkin sudah bertambah sepuluh unit kapal lagi," katanya.
Berdasarka pantauan di lapangan, kapal keruk ini masuk dari pelabuhan Belawan dan dikirim dari Vietnam. Sepertinya tidak akan mengherankan di tahun ini, sungai-sungai Aceh nantinya akan dipenuhi dengan Kapal Keruk Emas dengan operator diduga warga negara Vietnam.
Menurut warga di sekitar lokasi, di tempat mereka bekerja, dilarang keras orang mengambil foto. Dan dalam operasional mereka, disinyalir sudah ada koordinasi yang rapi antara semua pihak, sehingga informasi adanya Kapal Keruk Emas ini, hanya diketahui sekelumit orang padahal sudah beroperasi hampir satu tahun lamanya.
Masih berdasarkan amatan tim di lapangan, cara mereka bekerja sungguh sangat rapi. Disinyalir, komplotan dari orang-orang yang diduga warga negara Vietnam ini adalah ML, yang mengatur importasi kapal keruk bersangkutan. Diduga oknum inilah yang mengatur proses importasi di Belawan.