MATATELINGA - Jakarta : Di balik tembok Rutan, banyak orang masih membayangkan warga binaan hanya menjalani hukuman dan petugas sekadar melayani tahanan. Namun kesan itu kini terasa jauh berbeda. Rutan Wanita Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, justru menghadirkan wajah yang sangat humanis. Di tempat ini, pembinaan tidak sekadar menjadi program rutin, tetapi telah menjelma sebagai jembatan harapan bagi warga binaan untuk membangun kembali masa depan mereka.
Salahsatu kegiatan yang mencuri perhatian adalah pelatihan merajut tas. Di ruang sederhana yang dipenuhi warna-warni benang, para warga binaan bekerja dengan fokus dan semangat yang tak kalah dari para perajin profesional. Aktivitas ini bukan hanya mengisi kekosongan waktu, tetapi juga menanamkan ketekunan, menghasilkan karya bernilai jual, serta mempersiapkan keterampilan yang dapat mereka bawa ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.
Program ini menjadi semakin berarti karena para warga binaan memperoleh premi atau upah dari setiap karya yang dihasilkan. Bagi mereka yang memiliki anak, sebagian penghasilan itu bahkan disisihkan untuk kebutuhan sang buah hati, sebuah bukti bahwa kasih sayang tetap hidup meski terhalang tembok pemisah.
Baca Juga: Andi Surya, Sosok Pimpinan Penuh Inovatif Raih Penghargaan Petugas Berinovasi dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kepala Rutan Wanita Kelas I Pondok Bambu, Nebi Viarleni, A.Md.IP., S.H., M.H., menjelaskan bahwa setiap program pembinaan disusun dengan pendekatan berbasis bakat. "Setiap warga binaan harus melalui asesmen terlebih dahulu. Kami ingin memastikan mereka mengikuti kegiatan yang sesuai minat dan potensi, sehingga manfaatnya benar-benar terasa ketika mereka kembali ke masyarakat," ujar Nebi.
Karena itulah, di Rutan tersedia beragam kegiatan pembinaan, mulai dari merajut tas, pelatihan tata boga, coffee shop untuk belajar menjadi barista, hingga meracik jamu dan kuliner. Warga binaan dapat memilih kegiatan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing, sehingga banyak potensi terpendam berhasil tergali.
Melalui pendekatan yang humanis ini,
Rutan Pondok Bambu ingin membuktikan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, ketiga, bahkan seterusnya. Di balik gerakan tangan yang merajut tas, ada harapan yang dipintal perlahan—harapan untuk bangkit, berkarya, dan kembali menata hidup dengan penuh percaya diri.
Baca Juga: Lapas Kelas I Medan Gelar Tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62, Perkuat Komitmen Pelayanan Prima