MATATELINGA - Jakarta : Di tengah derasnya arus globalisasi, mobilitas manusia meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya. Batas negara kini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh kemampuan negara dalam mengelola arus manusia, data, serta pergerakan lintas negara.
Dalam konteks tersebut,
Imigrasi Indonesia memegang peran strategis sebagai penjaga gerbang negara sekaligus representasi awal Indonesia di mata dunia.
Dengan demikian, fungsi keimigrasian tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam merepresentasikan wajah bangsa.
Baca Juga: Kunjungi MPP, Bupati Deli Serdang Tekankan Sinkronisasi Layanan Publik Kepala Kantor
Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Selatan, Winarko, dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu oleh Erman Tale Daulay, menyampaikan bahwa
Imigrasi harus mampu menyeimbangkan dua aspek utama, yaitu keramahan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat serta ketegasan dalam menghadapi potensi pelanggaran oleh orang asing.
Saat ini, pengawasan terhadap orang asing dilakukan melalui tiga lapisan utama, yaitu:1. Profiling sejak tahap pengajuan visa di perwakilan Republik Indonesia di luar negeri;2. Pemeriksaan pada saat kedatangan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI);3. Pengawasan setelah yang bersangkutan berada di wilayah Indonesia.
Winarko memberikan contoh kasus, di mana seorang warga negara asing mengajukan izin tinggal sebagai Direktur Pertambangan, namun dalam praktiknya ditemukan bekerja sebagai juru masak di sebuah hotel.
"Hal tersebut jelas tidak sesuai dengan rekomendasi ketenagakerjaan. Kami melakukan pemeriksaan secara intensif untuk menelusuri perubahan tersebut. Apabila terbukti melanggar, yang bersangkutan akan dikenai tindakan deportasi serta pencekalan," tegas Winarko.
Baca Juga: Bobby Nasution Ingatkan BPJS Kesehatan Tetap Utamakan Kualitas Layanan Pelayanan Humanis di Dalam Negeri
Selain memperkuat pengawasan terhadap orang asing, Imigrasi juga terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang berorientasi pada aspek humanis.
Sebagai contoh, bagi jemaah haji lanjut usia, petugas
Imigrasi melakukan layanan jemput bola guna memastikan proses penerbitan paspor berjalan dengan lancar. Selain itu, edukasi dan pendampingan juga diberikan agar para jemaah memahami ketentuan perjalanan serta terhindar dari potensi pelanggaran.
"Imigrasi harus hadir dengan wajah yang ramah, namun tetap menjaga marwah negara," ujar Winarko.
Baca Juga: Tiga WNA diduga Terlibat Prostitusi Daring, Imigrasi Denpasar Bertindak Melalui keseimbangan antara pelayanan publik yang humanis dan penegakan hukum yang tegas,
Imigrasi berperan penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta citra positif Indonesia di era globalisasi.
Inilah wajah Imigrasi Indonesia saat ini—modern, responsif, humanis, dan tetap teguh dalam menjaga kepentingan bangsa.#Imigrasiuntukrakyat.