SURABAYA (Matatelinga), "Tanjung Perak mas, kapale kobong. Monggo Pinarak mas, kamare kosong". (Tanjung Perak mas, kapalnya terbakar. Mari singgah mas, kamarnya kosong).Begitulah parikan atau pantun manis merayu yang keluar dari bibir bergincu para wanita yang bergelut dalam bisnis prostitusi di Surabaya sepanjang 2014. Namun, parikan tersebut tidak lagi manis, seiring dengan adanya perhatian khusus Wali kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menutup semua lokalisasi di Surabaya.Lokalisasi itu dinilai melanggar aturan dan membahayakan anak-anak. Karenanya, Risma mengaku ikhlas menanggung risiko meninggal dunia asalkan lokalisasi di Surabaya dapat ditutup. Risma mengatakan upaya dirinya melakukan penutupan lokalisasi saat itu karena mendapat desakan dari 20 ulama yang mendatanginya dan menghendaki lokalisasi ditutup.Saat itu, dirinya bingung karena jika lokalisasi Surabaya benar-benar ditutup, para pekerja seks komersial (PSK) bisa tersebar kemana-mana. Dia menegaskan bahwa tidak ada gunanya Surabaya cantik dan bersih kalau anak-anak hidup di suasana yang tidak diinginkan. Komitmen Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadikan Surabaya bebas lokalisasi mulai dibuktikan dengan ditutupnya empat lokalisasi selama 2012-2013. Akhirnya Dolly Setelah 40 tahun mewarnai wajah Kota Surabaya, lokalisasi yang disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara yakni Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, pun secara resmi telah ditutup, Juni 2014.Legalitas Dolly sebagai tempat prostitusi mulai terkikis setelah pemerintah mendeklarasikan perubahan alih fungsi wisma pekerja seks komersial (PSK) dan alih profesi PSK. Deklarasi itu mengakhiri sejarah panjang Dolly yang berdiri pada awal 1970-an pascapenggusuran warga stren Kali Jagir oleh Wali Kota Surabaya saat itu, R. Soekotjo. Para warga korban penggusuran itu dipindahkan ke sebuah lokasi yang dekat dengan makam warga Tionghoa Kembang Kuning di kawasan Putat Jaya dan Girilaya.Kawasan Dolly terus berkembang hingga dari jumlah PSK dan luas wilayah operasi, Dolly disebut-sebut mengalahkan lokalisasi di distrik lampu merah Phat Pong di Bangkok, Thailand, ataupun kawasan Geylang di Singapura. Hampir puluhan ribu orang berkunjung setiap malam ke Dolly.Uang yang berputar di Dolly diperkirakan mencapai miliaran rupiah dalam sehari dan ada sekitar belasan ribu orang yang menggantungkan hidupnya di sana, mulai sopir taksi, penjual makanan, hingga warga yang menyewakan lahan parkir. Bahkan, sebagian aliran uang panas tersebut diduga jatuh ke aparat, mulai RT, RW, Satpol PP, polisi, hingga TNI.Sementara itu, jalanan di Gang Dolly pada saat malam hari terlihat masih ramai oleh orang berjaga-jaga dan terus memantau tamu asing yang datang ke wilayahnya. Ini dikarenakan mereka merasa terancam dengan masuknya gerakan dari kelompok tertentu yang biasanya datang tiba-tiba.Para makelar menawarkan layanan lebih berupa keluasan waktu. Tarifnya memang masih sama yakni, Rp90 ribu hingga Rp125 ribu. Sementara itu, para PSK pun memilih pasrah dengan perkembangan yang ada. "Kami manut saja. Takut kalau ada apa-apa," kata salah seorang PSK yang namanya enggan disebut.Namun, kata dia, ada perubahan signifikan di bekas lokalisasi, selain kondisi lingkungan yang lebih nyaman, harga tanah juga melonjak drastis, seperti yang terjadi saat ini di eks-lokalisasi Dupak Bangunsari.Perubahan serupa diharapkan wali kota juga terjadi di Dolly dan Jarak. Warga terdampak, PSK dan mucikari hendaknya beralih ke profesi lain yang sebetulnya lebih menjanjikan.Menurut dia, pihaknya memberikan apresiasi kepada pihak-pihak terkait yang sudah berusaha menutup prostitusi terbesar se-Asia Tenggara yakni Dolly dan Jarak. "Sekitar 2-3 tahun, kami bersama dengan pemda optimal untuk mengatasi permasalahan ini," katanya.(Fit)