MATATELINGA - Jakarta : Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati, memberi perhatian besar terhadap transformasi teknologi pertanian yang kini semakin masif diterapkan di Indonesia. Politisi yang akrab disapa Bu Estu itu menilai modernisasi pertanian menjadi kunci penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Menurut
Bu Estu, perubahan besar tengah berlangsung di sektor pertanian nasional. Berbagai tahapan budidaya yang sebelumnya mengandalkan tenaga manual kini telah bertransformasi menjadi sistem yang lebih modern dan berbasis teknologi.
"Pertanian kita sedang bergerak cepat dari pola konvensional menuju pertanian modern. Ini sebuah kemajuan yang sangat baik dan harus terus didorong," ujar Sadarestuwati dalam program Bincang Tipis-Tipis di kanal Erman Tale Daulay.
Baca Juga: Ancaman Siber di Era AI Meningkat, BDO Indonesia Dorong Integrasi AI Governance dan Perlindungan Data Ia menjelaskan, pengolahan lahan yang dahulu mengandalkan tenaga manusia kini telah menggunakan berbagai alat dan mesin pertanian. Pemupukan, penyiraman tanaman, hingga pengendalian hama mulai memanfaatkan teknologi drone yang mampu bekerja lebih cepat, efisien, dan presisi.
Pada tahap panen, modernisasi juga menghadirkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya panen dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu berminggu-minggu, kini petani dapat memanfaatkan combine harvester yang mampu menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan jam.
Selain mempercepat proses panen, penggunaan mesin modern juga mampu menekan kehilangan hasil yang selama ini menjadi persoalan klasik di lapangan. Pada metode panen dan perontokan gabah secara tradisional, kehilangan hasil dapat mencapai sekitar 10 persen akibat tercecer di sawah maupun saat proses pengangkutan.
"Bayangkan jika produksi mencapai jutaan ton. Kalau kehilangan hasil mencapai 10 persen, jumlahnya sangat besar. Dengan penggunaan combine harvester, kehilangan hasil itu bisa ditekan secara signifikan sehingga produksi yang terselamatkan menjadi sangat besar," katanya.
Baca Juga: JNE Kecam Aksi Pembegalan Kurir di Bandung, Berikan Apresiasi kepada Ksatria JNE Bu Estu mencontohkan, apabila produksi padi mencapai 7 juta ton, potensi kehilangan hasil sekitar 700 ribu ton dapat diselamatkan melalui penerapan teknologi panen modern. Jumlah tersebut menjadi tambahan pasokan pangan yang sangat berarti bagi kemandirian pangan nasional.
Selain meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya budidaya, modernisasi pertanian juga membuka jalan bagi regenerasi petani. Kehadiran konsep smart farming membuat sektor pertanian semakin diminati generasi muda karena dapat dikelola dengan dukungan teknologi digital.
Kini berbagai aktivitas pertanian, mulai dari pemantauan lahan, pengaturan irigasi, hingga penyiraman tanaman dapat dilakukan melalui telepon pintar yang terhubung dengan perangkat di lapangan.
"Anak-anak muda sekarang bisa mengelola pertanian melalui gawai. Mereka bisa kuliah, bekerja, bahkan menikmati waktu di kedai kopi sambil tetap memantau lahan pertaniannya. Ini wajah baru pertanian Indonesia yang modern, efisien, dan menarik bagi generasi muda," ujarnya.
Baca Juga: Anggota DPRD Labuhanbatu Dari Fraksi PDIP Kunjungi Korban Kebakaran Lingkungan Bakti Rantauprapat Karena itu,
Bu Estu menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas
KTNA) Nasional yang digelar pada 20–25 Juni 2026 di Gorontalo.Menurutnya, tema besar yang diusung, yakni Transformasi
Teknologi Pertanian dan
Hilirisasi Pertanian, sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan pertanian Indonesia saat ini.
"Saya salut dan mengacungi jempol kepada KTNA yang mengangkat tema besar transformasi teknologi dan hilirisasi pertanian. Ini menunjukkan bahwa KTNA memahami arah pembangunan pertanian masa depan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga nilai tambah dan kesejahteraan petani," katanya.
Bu Estu menegaskan, hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan petani. Selama ini banyak komoditas pertanian dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Padahal, apabila diolah terlebih dahulu di tingkat desa, nilainya dapat meningkat berlipat ganda.
Ia mencontohkan komoditas ubi singkong yang selama ini banyak dijual dalam kondisi mentah. Menurutnya, pola tersebut sudah saatnya diubah melalui pengembangan industri pengolahan berbasis desa.
Baca Juga: Kapolres Simalungun Hadiri Groundbreaking Hilirisasi Perkebunan PTPN IV "Jangan lagi ubi singkong dijual mentah yang masih berlumpur. Petani bersama ibu-ibu di desa harus didorong mengolahnya menjadi tepung, keripik, atau produk pangan lainnya. Setelah itu dikemas dengan baik dan menarik, lalu dipasarkan ke toko modern dan supermarket di kota. Di situlah nilai tambahnya tercipta," ujarnya.
Menurut Bu Estu, konsep hilirisasi tidak hanya akan meningkatkan harga jual produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di desa, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat posisi petani dalam rantai pasok pangan nasional.
Ia menilai kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi momentum penting untuk mempercepat hilirisasi produk pertanian di berbagai daerah. Koperasi dapat berfungsi sebagai pusat pengumpulan hasil panen, pengolahan produk, pengemasan, hingga pemasaran.
"Produk-produk pertanian dan UMKM desa harus ditampung dan dikembangkan oleh koperasi. Dengan begitu, hasil pertanian tidak langsung keluar desa dalam bentuk bahan mentah, tetapi terlebih dahulu diolah sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat," katanya.
Baca Juga: Cegah Dini El Nino Godzilla Demi Swasembada Berkelanjutan, Bu Estu Turun Langsung Memastikan Kesiapan Petani Bu Estu optimistis sinergi antara transformasi teknologi pertanian, hilirisasi produk, dan penguatan kelembagaan ekonomi desa melalui Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pertanian modern, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.
"Kalau teknologi mempercepat dan meningkatkan produktivitas, hilirisasi akan melipatgandakan nilai ekonomi hasil pertanian. Ketika keduanya berjalan bersama, petani akan menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya," pungkasnya.
Baca Juga: 256 SISWA SMA/SMK Tebingtinggi Berhasil Lulus SNBP