MATATELINGA - Bandung : Bulog Cabang Bandung terus memperkuat perannya dalam mendukung program swasembada pangan nasional melalui penyerapan gabah petani secara langsung di lapangan. Kehadiran Bulog hingga ke lokasi panen menjadi bukti nyata komitmen pemerintah memberikan kepastian pasar sekaligus menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.
Pemimpin Cabang (Pincab)
Bulog Bandung, Yanto Nurdianto, mengatakan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram telah memberikan semangat baru bagi petani untuk terus meningkatkan produksi. Selain memperoleh harga yang menguntungkan, petani kini memiliki kepastian bahwa hasil panennya akan diserap Bulog.
"Yang paling penting bagi petani adalah ada jaminan bahwa hasil panennya dibeli. Dengan adanya penyerapan Bulog, petani memiliki pasar yang jelas sehingga semakin percaya diri untuk terus berproduksi," ujar Yanto.
Baca Juga: Masyarakat Tiga Dolok Kecamatan Sangkunur Saling Bahu-Membahu Bantu Satgas TMMD ke-127 Kodim 0212/ Tapsel Bangun Saluran Irigasi ke Sawah Menurutnya, Bulog tidak hanya menunggu hasil panen datang ke gudang, tetapi aktif hadir melalui Tim Serap Gabah (Sergap) yang turun langsung ke sentra-sentra produksi. Tim tersebut bekerja sama dengan penyuluh pertanian, Babinsa, kelompok tani, serta mitra penggilingan untuk memastikan proses penyerapan berjalan optimal.
Selain melakukan penyerapan, Bulog juga terus mengedukasi petani agar menghasilkan gabah berkualitas. Edukasi diberikan bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Babinsa, dan organisasi petani, terutama mengenai waktu panen yang tepat dan pentingnya menjaga mutu gabah.
Yanto menegaskan, kualitas gabah menjadi perhatian bersama karena akan menentukan mutu beras yang nantinya kembali dikonsumsi masyarakat.
"Beras yang dihasilkan dari gabah petani pada akhirnya kembali kepada rakyat, bahkan kepada petani itu sendiri. Karena itu, menjaga kualitas gabah sejak proses budidaya hingga panen menjadi sangat penting," jelasnya.
Baca Juga: Wagub Sumut Surya Pimpin Groundbreaking Rehabilitasi Sawah di Tapteng Ia menyebutkan, perubahan pola pikir petani mulai terlihat. Melalui pendampingan yang terus dilakukan, semakin banyak petani memahami pentingnya memanen padi pada umur yang tepat sehingga menghasilkan gabah dengan kualitas yang lebih baik.
Di sisi hilir, Bulog Bandung juga berkomitmen menghadirkan beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang berkualitas dan segar kepada masyarakat.
Menurut Yanto, beras SPHP yang dipasarkan merupakan beras hasil penyerapan terbaru yang telah melalui proses penggilingan dan pengelolaan sesuai standar. Dengan demikian, masyarakat memperoleh beras yang lebih segar, berkualitas, dan siap dikonsumsi.
"Kami ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa beras Bulog adalah beras yang baru, segar, dan berkualitas. Karena itu, beras yang kami salurkan merupakan beras hasil serapan terbaru," ujarnya.
Baca Juga: Diduga Terseret Banjir, Mayat Remaja Ditemukan di Sawah Untuk menjaga kualitas tersebut, Bulog menerapkan pengelolaan gudang sesuai standar operasional, mulai dari fumigasi berkala, pengendalian hama, hingga pengaturan sirkulasi udara agar mutu beras tetap terjaga selama penyimpanan.
Yanto menegaskan, keberhasilan penyerapan gabah tidak hanya memperkuat kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga stok Cadangan Beras Pemerintah. Dengan stok yang memadai, Bulog dapat menjalankan fungsi stabilisasi pasokan dan harga melalui penyaluran beras SPHP kepada masyarakat.
"Dari hulu hingga hilir, Bulog hadir untuk memastikan petani mendapatkan kepastian pasar, sementara masyarakat memperoleh beras berkualitas dengan harga yang terjangkau. Inilah komitmen kami dalam mendukung kemandirian pangan nasional," pungkas Yanto.
Baca Juga: Ini Jenis Padi Menghasilkan 440kg/rante