MATATELINGA - Jakarta : Di tengah berbagai perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), seorang ibu di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mengaku siap berada di garis terdepan membela program tersebut. Ibu yang memiliki lima anak usia sekolah itu merasakan langsung manfaat MBG karena mampu meringankan beban ekonomi keluarganya sekaligus menjamin kebutuhan gizi anak-anaknya.
Sebelum ada
MBG, ia harus menyiapkan sedikitnya Rp20 ribu setiap hari untuk uang saku anak-anaknya. Kini, uang saku itu cukup sekitar Rp5 ribu sebagai pegangan karena kebutuhan makan siang mereka telah dipenuhi di sekolah. Bahkan, makanan yang masih tersisa kerap dibawa pulang dan dimanfaatkan kembali untuk keluarga. Bagi ibu tersebut,
MBG bukan sekadar program makan siang, melainkan kebijakan yang benar-benar membantu kehidupan keluarganya.
Kisah itu disampaikan kepada Wa Ode Nurhayati, Presidium Nasional FORHATI dan mantan anggota Komisi II DPR RI. Menurut Wa Ode, pengalaman nyata masyarakat seperti itulah yang menunjukkan bahwa MBG merupakan investasi sosial yang sangat besar bagi masa depan Indonesia.
Baca Juga: Ribuan siswa SD Di Desa Sampali Percut Seituan Minta Program MBG Di Lanjutkan "Kalau kita melihatnya sebagai investasi sosial, tentu kita sedang berbicara tentang masa depan bangsa dan generasi emas Indonesia," ujar
Wa Ode dalam program Bincang Tipis-Tipis di kanal Tale Trias Info yang dipandu host Erman Tale Daulay.
Menurutnya, MBG merupakan salah satu program pemerintah yang benar-benar menjangkau masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Wa Ode menjelaskan, setiap dapur
MBG melibatkan puluhan tenaga kerja, mulai dari juru masak, petugas persiapan bahan makanan, pencuci peralatan makan, tenaga distribusi, hingga petugas keamanan. Seluruhnya berasal dari masyarakat sekitar sehingga manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh warga.
"Di setiap dapur, ekonomi tumbuh karena lapangan pekerjaan tercipta. Banyak masyarakat memperoleh penghasilan baru. Ini bukan hanya soal memberi makan anak sekolah, tetapi juga menghidupkan ekonomi keluarga," katanya.
Baca Juga: 6 Fakta MBG Dihentikan Selama Libur Sekolah, Hemat Anggaran Rp3 Triliun hingga Diprotes Pengusaha Selain membuka lapangan kerja, rantai pasok
MBG juga menghidupkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga UMKM lokal. Sayur, telur, ayam, ikan, dan berbagai kebutuhan pangan dipasok oleh pelaku usaha di wilayah yang sama sehingga perputaran ekonomi tetap berada di daerah.
"Yang menarik, pemasoknya berasal dari kecamatan yang sama. Jadi hasil pertanian, peternakan, dan usaha masyarakat sekitar benar-benar menjadi bagian dari program ini. Pasar hidup, ekonomi tumbuh, dan masyarakat ikut merasakan manfaatnya," jelasnya.
Wa Ode menilai
MBG merupakan salahsatu bentuk pemerataan pembangunan yang selama ini diharapkan masyarakat. Program tersebut tidak hanya menyentuh aspek kesehatan dan pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta memperkuat ekonomi daerah.
Meski demikian, ia berharap pemerintah terus menyempurnakan implementasi program, terutama dalam komunikasi publik dan penguatan pelaksanaannya di lapangan. Menurutnya, fokus utama harus tetap pada keberhasilan menghadirkan makanan bergizi bagi seluruh anak Indonesia.
Baca Juga: Terima Aspirasi Pendukung MBG, Bobby Nasution Siap Teruskan Petisi Masyarakat Sumut ke Presiden Prabowo "Program ini sangat mulia. Yang harus dijaga adalah kualitas pelaksanaannya agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat secara luas," pungkasnya.