MATATELINGA - Tangerang : Prosesi Mangupa merupakan salahsatu ritual paling sakral dalam tradisi Batak Angkola. Melalui doa, petuah, dan hidangan yang sarat makna, keluarga memohon kepada Allah SWT agar mengembalikan semangat, kekuatan, dan keberkahan kepada kedua mempelai.
Dalam falsafah
Angkola dikenal ungkapan "mulak tondi tu badan", yakni doa agar jiwa, semangat, dan keberanian senantiasa menyatu dalam diri seseorang untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.
Suasana penuh khidmat itu mewarnai rangkaian pernikahan Ali Muda Siregar dan Yusnaini yang digelar pada Minggu, 12 Juli 2026, di Ballroom D'Prima Hotel, Jalan Benteng Betawi No. 88, Buaran Indah, Kota Tangerang, Banten.
Baca Juga: Kajari Poso Kagum Dengan Keunikan Rumah Adat Lobo Modern Serta Kantor Desa Pandiri Setelah prosesi akad nikah dan resepsi, acara dilanjutkan dengan
Mangupa-upa sebagai puncak doa dan restu adat bagi kedua mempelai.
Pada kesempatan tersebut, tokoh masyarakat Tapanuli Bagian Selatan, Hamsir Siregar RCM, didaulat menyampaikan petuah adat. Sebagai abang dari Ali Muda Siregar, Hamsir tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga mengulas filosofi hidangan yang disajikan dalam prosesi Mangupa.
Menurutnya, setiap hidangan bukan sekadar santapan, melainkan simbol doa dan harapan yang diwariskan para leluhur.
Hamsir menjelaskan, telur yang berbentuk bulat melambangkan kebulatan tekad. Karena itu, ia mendoakan agar Ali Muda Siregar dan Yusnaini senantiasa memiliki hati yang utuh, seia sekata dalam setiap keputusan dan tetap teguh menjaga ikatan rumah tangga hingga akhir hayat.
Baca Juga: Tinjau Rumah Adat Sisingamangaraja Yang Terbakar , Rico Waas Pastikan Segera Dilakukan Perbaikan Warna putih telur dimaknainya sebagai lambang kesucian hati dan kemuliaan budi. Harapannya, kedua mempelai menjadi pribadi yang membawa terang bagi keluarga, bersinar seperti matahari dalam memberi kehidupan, sekaligus menyejukkan laksana cahaya bulan di tengah masyarakat.
Sementara itu, kuning telur merupakan perlambang keemasan yang menjadi simbol kejayaan, kemakmuran, dan masa depan yang gemilang. Doa dipanjatkan agar rumah tangga yang dibangun senantiasa dipenuhi rezeki yang halal, keberkahan dan kehormatan bagi keluarga.
Bagi masyarakat Batak
Angkola,
Mangupa bukan sekadar seremoni adat. Menurut Hamsir, prosesi ini menjadi momentum ketika seluruh unsur Dalihan Na Tolu: mora, kahanggi, dan anak boru menyatukan doa dan restu agar kedua mempelai memperoleh kekuatan lahir dan batin dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Di penghujung petuahnya, Hamsir merangkum seluruh nasihat adat itu dalam sebuah doa yang sederhana namun sarat makna. Dengan mengucapkan "mulak tondi tu badan", ia berharap semangat, kesehatan, kebijaksanaan, dan keberkahan senantiasa menyertai langkah Ali Muda Siregar dan Yusnaini.
Baca Juga: Rumah Adat Sisingamangaraja Terbakar, Remaja 13 Tahun Diamankan "Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, hidup rukun, saling menguatkan dalam suka maupun duka dan menjaga kehormatan keluarga hingga akhir hayat."