Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Bersama KTNA, Petani Sejahtera: Rembug KTNA Digelar di Kota Batu, 19–20 September 2026

Bersama KTNA, Petani Sejahtera: Rembug KTNA Digelar di Kota Batu, 19–20 September 2026

Admin - Jumat, 18 September 2026 17:00 WIB
Matatelinga/Istimewa
Ketua Umum KTNA Nasional, HM Yadi Sofyan Noor bersama Erman Tale Daulay

MATATELINGA - Batu, Malang : Kota Batu, Jawa Timur, menjadi tempat berkumpulnya para petani, nelayan, pekebun, peternak, dan pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dari seluruh daerah dalam Rembug KTNA yang digelar pada 19–20 September 2026.

Mengusung semangat "Bersama KTNA, Petani Sejahtera", rembug ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar KTNA untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan langkah menghadapi tantangan pertanian yang terus berubah.

Ketua Umum KTNA Nasional, HM Yadi Sofyan Noor, mengatakan Rembug KTNA merupakan hajatan lima tahunan yang dalam tradisi organisasi disebut sebagai rembug paripurna. Forum ini tidak hanya membahas agenda organisasi, termasuk pemilihan ketua umum serta perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, tetapi juga menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan dan masa depan sektor pertanian.

Baca Juga: Bisnis Gelap Sabu Di Desa Sei Tampang Digagalkan Tim Sat Res Narkoba Polres Labuhanbatu

"Sebetulnya dalam rembug itu ada pemilihan ketua umum, kemudian kita membahas anggaran dasar, anggaran rumah tangga, tapi juga di dalamnya kita menggelar ekspo pertanian," ujar Sofyan dalam program Bincang Tipis-Tipis bersama Erman Tale Daulay di Kota Batu Jumat (18/9).

Menurutnya, Rembug KTNA 2026 memiliki suasana dan tantangan yang berbeda dibandingkan rembug lima tahun sebelumnya. Perubahan teknologi pertanian, kondisi musim dan cuaca, hingga perkembangan mekanisasi pertanian membuat petani harus terus beradaptasi.

Lima tahun lalu, aktivitas pertanian berlangsung dalam situasi pandemi COVID-19 sehingga berbagai kegiatan belum dapat berjalan secara maksimal. Kini tantangan bergeser, antara lain menghadapi kondisi cuaca yang semakin berat serta kebutuhan air yang menjadi salah satu persoalan utama pertanian.

"Antisipasi, adaptasi itu kita lakukan. Jadi penggunaan alat-alat pertanian tetap bisa maksimal. Cuma memang masalah utama kita di air," kata Sofyan.

Baca Juga: "Ratu Sabu Dan Ekstasi" Dari Desa Aek Hitetoras Marvau - Labura

Sofyan membanggakan Mentan Andi Amran Sulaiman yang sigap mengatasi persoalan petani.

Rembug KTNA menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pengalaman petani dari berbagai wilayah dengan perkembangan kebijakan, teknologi, dan kebutuhan pertanian ke depan.

KTNA sendiri merupakan organisasi profesi yang telah berdiri sejak 1971 dan memiliki jaringan kepengurusan mulai tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota hingga kecamatan. Dalam Rembug KTNA kali ini, sekitar 2.100 peserta tercatat akan hadir, terdiri atas jajaran pengurus KTNA dari berbagai tingkatan serta pembina dari daerah.

Sejumlah kepala daerah dan pejabat terkait sektor pertanian juga dijadwalkan hadir. Pada pembukaan, agenda rembug juga direncanakan menghadirkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono sebagai pembicara.

Baca Juga: Kilang Batu Bata di Pagar Merbau Hangus Terbakar

Bagi KTNA, kehadiran para pemangku kebijakan tersebut penting untuk mempertemukan kebutuhan nyata petani dengan arah pembangunan pertanian nasional.

Sofyan menegaskan, berbagai arahan dan hasil pembahasan dalam rembug nantinya akan menjadi bagian penting dalam penyusunan program kerja KTNA Nasional.

Di sisi lain, Rembug KTNA juga menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperlihatkan bagaimana proses kaderisasi kepemimpinan berjalan di tubuh KTNA.

Sofyan menjelaskan, proses pergantian kepemimpinan di KTNA dilakukan melalui mekanisme musyawarah dan kaderisasi. Seseorang tidak bisa tiba-tiba muncul dan langsung menjadi ketua umum tanpa melalui proses organisasi.

Baca Juga: DPRD Sumut Komit Dorong Perda Ekonomi Hijau dan APBD 2027 Berbasis PRKBI

"Untuk jadi ketua umum di KTNA itu, minimal dia satu periode lima tahun pengurus. Nggak bisa orang datang langsung jadi ketua, jadi pengurus dulu," tegasnya.

Karakteristik KTNA sebagai organisasi profesi juga membuat kepemimpinannya memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan petani dan nelayan. Anggota KTNA berasal dari kalangan petani, pekebun, peternak dan nelayan yang sehari-hari bersentuhan dengan persoalan produksi pangan.

Dengan demikian, Rembug KTNA di Kota Batu bukan sekadar forum lima tahunan untuk memilih kepengurusan baru. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk menyatukan pengalaman, memperkuat kaderisasi, membaca perubahan zaman dan merumuskan langkah bersama agar sektor pertanian semakin tangguh dan kesejahteraan petani terus meningkat.

Dari Kota Batu, semangat itu dirajut dalam satu pesan sederhana: Bersama KTNA, Petani Sejahtera.

Baca Juga: Tabrakan Beruntun Kembali Terjadi Di Jl Jamin Ginting-Sibolangit

Editor
: James Pardede

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Bisnis Gelap Sabu Di Desa Sei Tampang Digagalkan Tim Sat Res Narkoba Polres Labuhanbatu

Nasional

"Ratu Sabu Dan Ekstasi" Dari Desa Aek Hitetoras Marvau - Labura

Nasional

Kilang Batu Bata di Pagar Merbau Hangus Terbakar

Nasional

DPRD Sumut Komit Dorong Perda Ekonomi Hijau dan APBD 2027 Berbasis PRKBI

Nasional

Tabrakan Beruntun Kembali Terjadi Di Jl Jamin Ginting-Sibolangit

Nasional

Polri dan TNI Temukan Tanaman Ganja di Sibolangit