MATATELINGA - Semarang : Jarum dan benang bergerak perlahan di tangan para warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang, Jawa Tengah. Ada yang merajut tas, ada yang menjahit pakaian. Namun di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan sebuah ikhtiar besar: mempersiapkan masa depan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
"Selain merajut tas, mereka juga merajut masa depan. Seraya menjahit baju, mereka juga menjahit masa depan."
Gambaran itu menjadi bagian dari semangat pembinaan yang berlangsung di Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang. Paradigma pemasyarakatan yang dahulu identik dengan penghukuman dan pemenjaraan kini bergerak menuju pembinaan dan pemberdayaan.
Baca Juga: Setelah UNDIP, BTN Hadirkan KTM Co-Branding Untuk 12.000 Mahasiswa Baru UNNES Kepala Seksi Kegiatan Kerja
Lapas Perempuan Kelas IIA
Semarang,
Adriyanti Wing Kartika Sari, S.AP., M.Si., mengatakan pembinaan di Lapas pada prinsipnya terbagi menjadi dua, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.
Ia berada pada bidang pembinaan kemandirian yang berfokus pada peningkatan keterampilan warga binaan melalui berbagai kegiatan vokasional.
"Di tempat kami ada vocational training. Ada 10 kegiatan. Jadi tidak hanya sulam. Ada sulam, menjahit, salon, bakery, laundry, kemudian kebun atau tanaman dan juga tata boga," ujar
Adriyanti Wing Kartika Sari.
Di lingkungan Lapas terdapat program tanaman pangan berupa pertanian yang dikembangkan secara smart farming dan peternakan ayam.
Baca Juga: Imigrasi Semarang Perketat Pengawasan Berlapis, Cegah TPPO dan Tegas Tindak WNA Bermasalah Beragam kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan. Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pembinaan tidak berhenti sebagai aktivitas di dalam Lapas, tetapi dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke masyarakat.
Menariknya, hasil kerja warga binaan juga dihargai melalui sistem premi digital.
Menurut Wing Kartika, perhitungan premi dilakukan berdasarkan produktivitas. Artinya, hasil yang diperoleh warga binaan dihitung secara lebih presisi sesuai dengan pekerjaan yang mereka hasilkan.
"Yang mereka hasilkan, ya itu yang mereka dapat. Jadi bukan manual lagi, tetapi kami melakukan dengan premi digital," katanya.Tidak hanya memperoleh penghargaan atas produktivitas, warga binaan juga mendapatkan jaminan keselamatan kerja melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Baca Juga: BTN dan UNDIP Resmi Luncurkan KTM Co-Branding untuk 17.000 Mahasiswa Baru Dengan demikian, pembinaan kemandirian tidak hanya berbicara mengenai keterampilan dan hasil kerja, tetapi juga memberikan perlindungan sosial bagi warga binaan selama mengikuti kegiatan kerja.
Premi yang diterima kemudian ditabung. Tabungan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka selesai menjalani masa pidana dan kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.Sekadar info, ada warga binaan yang bebas mengantongi tabungan sebesar Rp. 30 juta.
"Ketika mereka bebas, bisa mereka gunakan untuk menyiapkan masa depan mereka. Jadi kami benar-benar mempersiapkan mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri," ujar Wing Kartika.
Dari sangkar menuju sanggar. Dari keterbatasan menuju keterampilan. Dari sebuah tas yang dirajut dan pakaian yang dijahit, ada harapan agar kehidupan setelah bebas tidak kembali ke titik yang sama.
Baca Juga: Ketika Kejelian Petugas Menghentikan Narkoba di Gerbang Lapas Surabaya di Porong Di
Lapas Perempuan Kelas IIA
Semarang, pembinaan menjadi jembatan untuk menyiapkan warga binaan menghadapi kehidupan berikutnya—dengan keterampilan, produktivitas, dan bekal untuk berdiri lebih mandiri.