MATATELINGA - Cirebon : Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cirebon, Jawa Barat, tersimpan sebuah bangunan bersejarah bernama Gedung Pertenunan. Bangunan ini berasal dari masa kolonial Belanda dan hingga kini masih dipertahankan dan dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah.
Namun, gedung tua itu kini tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Di dalamnya, warga binaan justru sedang merajut masa depan.
Di tempat yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas pertenunan tersebut, kini berlangsung berbagai kegiatan pembinaan kemandirian, antara lain menjahit, bordir dan produksi pakaian, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Baca Juga: Kapolres Simalungun Hadiri Pisah Sambut Kalapas Pematang Siantar, Wujud Sinergitas Forkopimda Di sinilah sebuah filosofi menemukan maknanya: menenun harapan, menenun cita-cita, sekaligus menjahit masa depan.
Salah seorang warga binaan, Dedi, mengikuti kegiatan pembinaan menjahit di Lapas Kelas I Cirebon. Tangannya tidak sekadar menggerakkan jarum dan benang untuk menghasilkan pakaian. Keterampilan itu diharapkan menjadi bekal ketika kelak ia kembali ke tengah masyarakat.
"Jadi menjahit baju, menjahit masa depan," demikian gambaran yang muncul dari kegiatan pembinaan tersebut.
Kalapas Kelas I Cirebon, Suranto, dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay, mengatakan pembinaan di Lapas tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan hukuman, tetapi juga bagaimana warga binaan memperoleh bekal untuk menjalani kehidupan setelah selesai menjalani masa pidana.
Baca Juga: Perkuat Komitmen Berantas Narkotika, Kalapas Binjai Hadiri Puncak Peringatan HANI 2026 Secara Daring Menurutnya, pembinaan di Lapas Kelas I Cirebon dilakukan melalui dua jalur utama, yakni pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian.
"Pembinaan kemandirian ini adalah bekal modal duniawi. Agar setelah melaksanakan pembinaan di sini, mereka punya bekal, termasuk bekal yang bersertifikasi, sehingga setelah keluar dari sini mampu mengamalkan atau bekerja sesuai dengan kemampuan yang telah diberikan," ujar Suranto.
Semangat tersebut sejalan dengan paradigma pemasyarakatan yang kini menempatkan warga binaan sebagai manusia yang harus dipersiapkan untuk kembali hidup dan berperan di tengah masyarakat.
Karena itu, kegiatan menjahit, bordir, dan berbagai keterampilan lainnya bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu selama berada di Lapas. Lebih jauh, kegiatan tersebut merupakan proses mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan produktif dan peluang untuk mandiri setelah menjalani masa pidana.
Baca Juga: Early Warning dari Desa! Imigrasi Cirebon Bentuk 39 Desa Binaan Cegah TPPO Suranto menyadari, keberhasilan pembinaan tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan internal Lapas. Keterlibatan pihak ketiga, dunia usaha, pemerintah daerah dan masyarakat menjadi penting, terutama dalam menyediakan pelatihan, instruktur dab pesanan produk.
"Kalau ada instruktur yang jago, bisa memberikan pelatihan dan mentransfer ilmu menjahit di sini. Atau memberikan order pekerjaan kepada kami. Insya Allah, apapun yang dipesan terkait dengan penjahitan, sablon maupun pembuatan kaos, kami siap melaksanakan," katanya.
Menurut Suranto, kesinambungan order menjadi salah satu kunci agar keterampilan warga binaan tidak berhenti sebatas pelatihan. Dengan adanya permintaan dari masyarakat atau dunia usaha, warga binaan dapat terus berproduksi sekaligus mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Hal itu menjadi semakin penting mengingat kondisi Lapas Kelas I Cirebon yang menghadapi keterbatasan kapasitas. Di tengah kondisi tersebut, pembinaan tetap harus berjalan.
Baca Juga: Kalapas Gorontalo Junaidi Rison Optimalkan Lahan Tidur untuk Budidaya Kangkung, Dukung Kemandirian Pangan dan Pembinaan Warga Binaan Justru dalam situasi itulah, semangat mencari solusi dan membangun kolaborasi menjadi bagian penting dari tugas pemasyarakatan.
Suranto juga mengajak pemerintah daerah, pihak swasta dan masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam proses pembinaan.
Heritage yang Menjadi Ruang Menenun Masa Depan
Di tengah aktivitas pembinaan tersebut, keberadaan Gedung Pertenunan memberikan dimensi lain yang membuat Lapas Kelas I Cirebon memiliki cerita tersendiri.
Baca Juga: Lapas Narkotika Jakarta Mantapkan Pilot Project Pembinaan Entrepreneur bagi Warga Binaan Bangunan yang berasal dari zaman kolonial Belanda itu masih menyimpan sejumlah peralatan lama yang dipertahankan dan dirawat. Keberadaannya menjadi bagian dari sejarah kawasan dan terus dijaga melalui koordinasi dengan Pemerintah Kota Cirebon.
Gedung bersejarah itu kini seperti mempertemukan dua zaman.Di satu sisi, ia menyimpan jejak masa lalu melalui bangunan dan peralatan pertenunan yang diwariskan dari masa kolonial. Di sisi lain, ruang yang sama kini menjadi tempat warga binaan belajar keterampilan untuk menghadapi masa depan.
Dulu menenun kain, kini menenun harapan.Dulu gedung ini menjadi bagian dari aktivitas pertenunan. Kini, di tempat yang sama, warga binaan menenun cita-cita tentang kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.
Jarum, benang, mesin jahit dan mesin bordir yang bekerja di dalamnya menjadi simbol bahwa proses pembinaan bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalani masa pidana, tetapi juga bagaimana ia dipersiapkan untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Baca Juga: Eks Penghuni Lembaga Pemasyrakatan di Tangkap Polsek Medan Kota Karena itu, bagi Suranto, semangat pemasyarakatan adalah memastikan bahwa proses pembinaan benar-benar memberikan manfaat.
"Jargon kami adalah memanusiakan manusia. Mudah-mudahan pemasyarakatan pasti bermanfaat untuk masyarakat," ujarnya.
Gedung Pertenunan di Lapas Kelas I Cirebon akhirnya bukan hanya tentang bangunan tua yang menyimpan sejarah. Ia menjadi ruang perjumpaan antara warisan masa lalu dan harapan masa depan.
Di sana, warga binaan belajar menjahit pakaian. Tetapi sesungguhnya, mereka sedang menjahit masa depan.
Baca Juga: Silaturahmi Ka.UPT Pemasyarakatan Medan dengan Kapolrestabes Medan Perkuat Sinergitas Keamanan