MATATELINGA, Jakarta:Kelompok Kriminal Bersenjata(KKB) Papua semakin brutal denganmelakukan kekerasan sampai sampai pembunuhan terhadap tiga orang aparatur sipilNegara (ASN).
Adapun korban penembakantiga orang aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian KabupatenJayawijaya, Papua Pegunungan. Ketiganya adalah Wili Mbuik (26), ApridaRapi (49), dan Alfonsius Albinus Meha (35).
Baca Juga: Mancing Bareng Panglima TNI, Strike Nusantara Semarakkan HUT ke 81 TNI Dengan peristiwa tersebut, tim gabungan
TNI-Polri terus melakukan penegakanhukum dengan memutus jaringan senjatadan amunisi.
Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 belum lamaini menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam kepemilikan dan peredaranamunisi ilegal di Mimika, Papua Tengah. Dalam penangkapan tersebut, polisimenyita puluhan butir amunisi berbagai jenis sebagai barang bukti yang didugauntuk dipakai oleh
KKB..
Baca Juga: Panglima TNI Kunjungi Kompetisi Primarox 2026 Piala Panglima TNI di BSD Sementara itu, Direktur Eksekutif Merah Pusaka StratejikIndonesia (MPSI) Noor Azhari menilai upaya mewujudkan perdamaian di Papuamembutuhkan pendekatan yang menyatukan aspek keamanan dan pembangunan.
MenurutNoor, keamanan diperlukan untuk melindungi masyarakat dan memastikan hukumberjalan, sementara pembangunan menjadi instrumen penting untuk menghadirkanpelayanan publik, meningkatkan kesejahteraan, dan membangun kepercayaanmasyarakat terhadap negara.
"Damai Papua hanya mungkin jika keamanan, pelayanan publik,keadilan sosial, dan penghormatan terhadap masyarakat lokal berjalanbersama," kata Noor dalam Diskusi Publik bertajuk "Mengapa EskalasiKonflik Papua Selalu Memanas?" yang diselenggarakan Yayasan Merah PusakaStratejik Indonesia (MPSI) di Jakarta Timur, Jumat (2/10/2026), dikutip Okezone.
Noormengatakan, persoalan Papua tidak cukup dibaca hanya sebagai gangguan keamanan.Konflik yang berlangsung juga berkaitan dengan perlindungan warga sipil,keberlangsungan layanan dasar, kepercayaan masyarakat, serta masa depanpembangunan di wilayah Papua.
Baca Juga: Wapang TNI Tinjau Kesiapan Yonif TP di Sumedang dan Majalengka "Berdasarkan riset MPSI 2026, tercatatlebih dari 240 kejadian kekerasan sepanjang 2019 hingga September 2026 disejumlah wilayah Papua. MPSI mengidentifikasi sejumlah pola kekerasan, antaralain intimidasi, pengungsian, kekerasan fisik, gangguan terhadap layanan dasar,dan disinformasi,"jelasnya.
Baca Juga: Silaturahmi Lintas Generasi, TNI Perkuat Semangat Pengabdian