JAKARTA - Matatelinga, Politikus Partai Gerindra, Gus Irawan Pasaribu, menilai, bila blusukan yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya demi pencitraan semata. Pasalnya, blusukan tersebut bukan untuk menyerap aspirasi."Mestinya blusukan adalah untuk menyerap aspirasi, tetapi faktanya? Begitu kuatnya penolakan kenaikan harga BBM oleh masyarakat secara luas yang disuarakan oleh berbagai komponen baik oleh mahasiswa, buruh dan berbagai kelompok lainnya, sampai dengan teriakan keras para anggota dewan yang menyuarakan aspirasi konstituennya serta analisis para pengamat tak didengar," jelas Irawan di Jakarta, Senin (19/1/2015).Penilaian itu, kata dia, didasarkan atas keputusan Jokowi dalam menaikkan harga BBM. "Sama sekali tidak didengar oleh Pemerintah dan tetap kukuh menaikkan harga BBM di tengah harga minyak mentah dunia turun," tegas dia."Rencana Pemerintah menurunkan harga BBM tidak akan dapat dengan seketika menstabilkan harga-harga di pasar yang sudah naik, dan mengangkat orang yang jatuh miskin karena dampak kenaikan harga BBM. Akan tetapi mempertahankan harga BBM yang sudah dinaikkan atau mempertahankan kebijakan yang salah lebih tidak masuk akal," imbuhnya.Mirisnya lagi, kata Ketua Komisi XI DPR itu, masyarakat saat ini harus menanggung dampak dari kebijakan yang diambil Jokowi."Betapa mahalnya dampak dari kekeliruan ini, dan yang lebih miris harga mahal itu harus ditanggung masyarakat miskin. Kita harus mengambil pembelajaran dari kejadian ini," tegas dia.Dia juga menyarankan, agar pemerintah tidak lagi terburu-buru dalam mengambil sebuah kebijakan."Pemerintah harus lebih dulu fokus memetakan akar dari berbagai persoalan secara komprehensif, selanjutnya merumuskan solusi terbaik secara terencana, holistik, sistematis, terstruktur dan terukur," tuturnya."Saatnya untuk kerja, kerja, kerja yang terstruktur dan terukur, bukan kerja pencitraan semata," tegasnya.Demikian seperti dilansir dari laman okezone.com(Fit)