JAKARTA - Matatelinga, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) diperkirakan tidak dapat bekerja profesional. Itu dilatar belakangi enam dari sembilan anggota Wantimpres masih aktif di partai politik.Keenam orang itu yakni Sidarta Danusubrata (PDI Perjuangan), Suharso Monoarfa (PPP), Yusuf Kertanegara (PKPI), Jan Darmadi (Nasdem), Rusdi Kirana (PKB), dan Subagyo Hadi Siswoyo (Hanura).Peneliti senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata, mengatakan, politik kepentingan dan balas budi tidak bisa dilepaskan dan menjadi instrumen utama masuknya nama-nama dalam Watimpres."Keenam nama-nama tersebut sangat berkaitan erat dengan keterlibatan mereka pada Pilpres 2014. Jika keenam nama-nama tersebut sudah melepaskan ikatan dan motif politik dari masing-masing habitatnya yakni parpol maka bisa saja peluang Watimpres profesional menjadi lebih terbuka lebar," jelas.Menurutnya, dalam pemilihan susunan Wantimpres, Presiden Jokowi sepertinya pasrah terhadap nama-nama yang disodorkan oleh partai politik pendukungnya saat pilpres lalu. "Hal ini bisa dimaklumi lantaran Jokowi-JK dan partai pendukung sedang menikmati bulan madu atas keberhasilan mereka pada pilpres kemarin," sambungnya.Tak heran, lanjut Dian, apabila tudingan publik terhadap komposisi Watimpres sekadar bagi-bagi kue kekuasaan. Namun, lain halnya jika Jokowi memilih, nama-nama seperti Romo benny, Hasyim Muzadi, Abdul Malik Fadjar, Ahmad Syafii Maarif, Yusril Ihza Mahendra, Kwik Kian Gie, dan BJ Habibie, masuk dalam komposisi Watimpres."Kalau nama-nama itu besar kemungkinan tudingan bagi-bagi kue kekuasaan dapat diminimalisir," tuturnya. Seperti dilansir okezone.com, Selasa (20/1/2015)(Fit)