Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Pembebasan Pembajakan Pesawat Garuda, Menuai Pengakuan Dunia
Pembajakan Pesawat Garuda

Pembebasan Pembajakan Pesawat Garuda, Menuai Pengakuan Dunia

Admin - Sabtu, 28 Maret 2015 08:26 WIB
google
Pembajakan Pesawat Garuda
JAKARTA - Matatelinga, Tanpa mengurangi rasa hormat pada kesatuan lainnya, Komando Pasukan Sandi Yudha (sekarang Kopassus) meroket namanya setelah “Operasi Woyla”.

Pasukan elite Angkatan Darat Indonesia ini mendapati pengakuan dunia internasional setelah membebaskan sandera Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang dibajak kelompok teroris, Komando Jihad, pada 28 Maret 34 tahun silam (1981), di Thailand.

Semenjak 1950 hingga sekarang, tercatat 62 kali peristiwa pembajakan pesawat komersial. Sejak 1950 itu pula hanya empat negara yang mampu membebaskan sandera dan membunuh pelaku pembajakan, termasuk Indonesia selain Israel, Jerman dan Singapura.

Keempatnya berhasil berkat kemampuan pasukan elite mereka masing-masing. Komando Pasukan Khusus (Kopassus) AD berada di antaranya bersama GSG 9 (Jerman), Mossad (Israel) dan SOF (Singapura).

Awalnya, kemampuan militer Indonesia yang saat terjadi “Peristiwa Woyla”, masih cenderung diremehkan lantaran status Indonesia, tergolong negara dunia ketiga. Setelah keberhasilan operasi, dunia internasional mulai benar-benar angkat topi akan kemampuan militer elite Indonesia.

Surat Kabar The Asian Wall Street Journal dan dilansir laman okezone.com, tak segan menyematkan keberhasilan “Operasi Woyla”, 31 Maret 1981 di headline mereka, “Indonesia bukannya tidak layak diberikan pujian dan hormat yang sama dengan (pasukan) komando Israel dan Jerman Barat, untuk tindakan keberanian di Entebbe (Uganda) dan Mogadishu (Somalia). Sangat disayangkan karena ada poin yang lebih luas untuk dibuktikan (pasukan Indonesia),”.

“Yang pasti, butuh kemampuan militer tingkat tinggi untuk bisa menyelamatkan penumpang pesawat yang disandera tanpa menimbulkan satu pun korban jiwa. Sedari pembajakan sampai tembakan terakhir, jalannya operasi selama 60 jam membutuhkan organisasi dan perencanaan yang sangat baik, serta butuh keberanian, efisiensi dan disiplin,” lanjut Koran tersebut.

Usai operasi, surat kabar The Bangkok Post sempat mendapati wawancara singkat dengan salah satu personel Grup-1 Para Komando, TJP Purba,: “Prinsip kami sederhana, tak terdengar, menentukan dan agresif,”.

Sepulangnya ke Indonesia, komandan lapangan, Letkol Sintong Hamongan Pandjaitan beserta semua personelnya dianugerahi “Bintang Sakti”.

(Fit)


Tag:

Berita Terkait

Nasional

Halte Bus Listrik di Jalan Gatot Subroto: Solusi Transportasi atau Sumber Kemacetan Baru?

Nasional

Macet Hari Ini, Harapan untuk Medan Esok Hari

Nasional

Hari Lahir Pancasila: Di mana Peran Mahasiswa?

Nasional

IKAN SAPU - SAPU DI DANAU TOBA: SAAT SOLUSI MENJADI MASALAH BARU

Nasional

Wartawan Matatelinga.com Raih Penghargaan PMI Labuhanbatu

Nasional

Matatelinga.com Meraih Juara Satu, Pembaca dan Pengunjung Terbanyak Pemberitaan Polda Sumut