Matatelinga.com,Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat Entang Sastraatmadja mengatakan, selama ini sawah yang kekeringan menjadi masalah klasik yang tak pernah tuntas dalam produksi padi. "Penanganan masih parsial, sehingga setiap tahun selalu ada kerugian," ujarnya.Menurut Entang, cuaca ekstrim adalah kendala pertanian yang terkait erat. Kekeringan dan banjir sama-sama merugikan petani, karena harus kehilangan hasil panennya.(30/6/2015)Dilansir laman Okezone.com,Oleh karena itu, kekeringan dan banjir harus diselesaikan dalam satu kebijakan menyeluruh. Kebijakan itu harus dituangkan secara serius dalam peraturan daerah (perda) yang merunut pada Undang-Undang Perlindungan Dan Pemberdayaan Petani.Entang mencotohkan, langkah kongkrit untuk menekan kerugian petani akibat kekeringan dan banjir adalah menciptakan benih padi yang tahan cuaca ekstrim. "Selain itu harus dibangun embung di sentra produksi padi," tuturnya.Sementara itu, di Kabupaten Bandung, kekeringan tahun ini sudah melanda sekira 22 hektar lahan padi dan mengancam sekira 697 hektar lainnya di 16 kecamatan."Yang terbesar di Kecamatan Baleendah. Sudah ada 5 hektar yang kekeringan dan 284 hektar terancam," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran.(Fit)