Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Wakil Wali Kota Sahur Bareng Pemulung Di Kampung Simbad
Pemulung

Wakil Wali Kota Sahur Bareng Pemulung Di Kampung Simbad

Admin - Minggu, 05 Juli 2015 13:46 WIB
Matatelinga.com,Wakil Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Whisnu Sakti Buana menggelar Sahur on the Road (SOTR) di Kampung 1001 Malam bersama Paguyuban Cak dan Ning Suroboyo, serta komunitas underground, Minggu dini hari (5/7).Dilansir laman Merdeka.com, Kampung 1001 Malam, merupakan perkampungan kumuh di kawasan Lasem Baru, Kelurahan Dupak, Kecamatan Morokerembangan.

Acara ini, merupakan bentuk apresiasi Whisnu terhadap aksi sosial yang kerap dilakukan komunitas musik beraliran keras tersebut dalam menyuarakan Gerakan Cinta Budaya Surabaya.

Menurut Whisnu, Gerakan Cinta Budaya Surabaya, bukan sekadar melestarikan ciri khas pariwisata Kota Pahlawan, tapi juga melakukan kegiatan-kegiatan positif. Salah satunya, menggelar SOTR di Kampung 1001 Malam.

Di Kampung 1001 Malam ini, dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga (KK), yang mayoritas bekerja sebagai pemulung. Selain tinggal di tempat terbuka dengan bangunan ala kadarnya, beberapa warga juga ada yang tinggal di bangunan triplek di bawah Tol Dupak. Mereka tinggal berkelompok di tempat ini, sejak sekitar 1999.

Kampung 1001 Malam berdiri, karena imbas pembangunan Tol Dupak sekitar Tahun 1990-an. Kemudian lahan tersebut terputus dan ditempati oleh warga pendatang. Tak banyak orang tahu soal keberadaan Kampung 1001 Malam ini. Sebab, untuk masuk ke sana, aksesnya cukup sulit dan hanya ada satu pintu masuk. Atau bisa juga melalui jalur sungai dengan menumpang rakit dari Jalan Tambak Asri.

Pintu masuk ke Kampung Simbad, melalui Dupak Bangun Rejo, kemudian melewati lorong-lorong sempit di bawah Tol Dupak dan jalan sempit pinggir sungai. Karena sulitnya akses kampung terpencil di tengah kota ini, kampungan kumuh dihuni orang-orang terbuang berprofesi pemulung itu, dinamakan Kampung 1001 Malam.

"Saya mengapresiasi kreativitas anak-anak muda seperti Cak dan Ning Suroboyo maupun komunitas underground. Selama ini mereka memang berkegiatan positif dan menginsipirasi generasi muda, seperti kegiatan sahur bareng di Kampung 1001 Malam ini," terang Whisnu yang ikut hadir di acara SOTR.

Politisi yang akrab disapa WS ini juga mengatakan, kegiatan SOTR, memang menjadi agenda bersama. "Dan dipilihnya Kampung 1001 Malam ini, sebagai bentuk perhatian Pemkot Surabaya, terhadap kondisi perkampungan yang masih hidup terpinggirkan di tengah kota," lanjutnya.

Selain menggelar saur bersama warga Kampung 1001 Malam, Whisnu, komunitas underground dan Paguyuban Cak dan Ning Suroboyo, juga meletakkan batu pertama pembuatan MCK (mandi, cuci dan kakus) untuk warga. Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Whisnu.

"Kami sebagai warga Kampung 1001 Malam sangat senang dengan bantuan ini. Kami berharap, perhatian dari pemerintah untuk bisa lebih peduli pada masyarakat kecil seperti di Kampung 1001 Malam ini," ucap Sudarjo alias Bejo, sesepuh Kampung 1001 Malam.

Di Kampung 1001 Malam ini, tidak bisa dilalui pipa air bersih (PDAM). Karena PDAM tidak bisa menanam pipa-pipa air menuju kampung terpencil di tengah Kota Surabaya itu. Sehingga, air bersih menjadi barang langkah di Kampung Simbad ini. Dan di hadapan warga, Whisnu berjanji, bersama Pemkot Surabaya, dia akan mengupayakan pembuatan tandon-tandon air bersih untuk warga 1001 Malam.

Tak hanya menggelar SOTR di Kampung Simbad, masih kata dia, para musisi underground ini, juga menggelar kegiatan bagi takjil di bulan puasa Ramadan di Jalan Sedap Malam. Aksi bagi takjil itu, menggabungkan dua unsur berbeda menjadi satu, yaitu Paguyuban Cak dan Ning Surabaya dan komunitas underground, seperti musisi dari aliran Hardcore, Metal, Punk, dan Hip-Hop.

Pada kegiatan itu, mereka tidak sekadar membagi takjil, tapi juga membagikan sekitar 100 kaos bertema: Ramadhan Youth Invasion, yang langsung disablon di lokasi. Ini dimaksudkan sebagai simbol penggerak roda ekonomi: Memainkan musik idealis, juga bisa menjadikan sesuatu untuk kebersamaan.

Kegiatan bernuansa Ramadan yang dilakukan barisan anak muda berbagai organisasi tersebut, juga mengkampanyekan Cinta Budaya Surabaya ala anak muda Kota Pahlawan.

Di tempat yang sama, Koordinator Musisi Underground Surabaya, Erwin Balanar mengatakan, Gerakan Cinta Budaya Surabaya tersebut, akan dilakukan secara marathon. "Pada tanggal 11 dan 12 Juli nanti, kita juga akan menggelar aksi ini, yang diawali pertunjukan musik bertajuk Ramadhan Attack 2015 di halaman Fisip Kampus B Unair Surabaya," katanya.

Selanjutnya, di tanggal 12 Juli, lanjutnya, giliran Paguyuban Cak dan Ning Surabaya yang menggelar kegiatan Safari Ramadhan Heroik Surabaya. "Yaitu ngabuburit dengan blusukan di rumah HOS Tjokroaminoto dan rumah kelahiran Bung Karno (Soekarno), yang kemudian dilanjutkan berbuka bersama di Sekretariat Korps Cacad Veteran Tumbal Negara, di Jalan Rajawali," pungkasnya.

(Fit)


Tag:

Berita Terkait

Nasional

Jangan Lewatkan Pertandingan Arsenal vs Manchester City di Community Shield

Nasional

Gaya Hidup Sehat Remaja: Kunci Menciptakan Generasi yang Produktif dan Berkualitas

Nasional

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

Nasional

Halte Bus Listrik di Jalan Gatot Subroto: Solusi Transportasi atau Sumber Kemacetan Baru?

Nasional

Macet Hari Ini, Harapan untuk Medan Esok Hari

Nasional

Hari Lahir Pancasila: Di mana Peran Mahasiswa?