Matatelinga.com, Warga Pulau Enggano, Bangkulu, terancam kelaparan menyusul terhentinya aktivitas penyeberangan menuju pulau tersebut. Memang, sejak 10 hari terakhir, tidak terlihat kapal Ferry Raja Enggano di Dermaga Pulau Enggano.Kapal Ferry Raja Enggano dalam sepekan biasanya dua kali berlayar dari Enggano ke pusat kota. "Biasanya dalam satu minggu dua kali. Namun, saat ini kapal ferry sama sekali tidak bisa bersandar. Kita juga tidak tahu persis penyebabnya apa," jelas Sekretaris Umum Yayasan Karya Enggano di Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Senin (7/9/2015).Kapal yang dinanti, selain membawa penumpang juga membawa kebutuhan pokok dari pusat kota untuk warga yang tinggal di Pulau Enggano. Ada enam desa di Pulau Enggano, yakni Malakoni, Apoho, Meok, Banjarsari, Kaana, dan Kahyapu. Kini, ribuan orang yang tersebar di enam desa itu terancam kelaparan, karena tidak adanya stok kebutuhan bahan pokok yang datang.Selain mengancam kelaparan, tidak masuknya kapal Ferry Raja Enggano menyebabkan hasil bumi warga desa membusuk. Hasil bumi seperti pisang kepoh, dan jengkol, biasanya dibawa ke kota untuk dijual."Banyak hasil bumi warga Enggano yang tidak bisa keluar. Akibatnya, saat ini semua hasil bumi sudah membusuk," akunya.Hal senada disampaikan Karyadi, warga Desa Meok. Dia mengatakan, hasil bumi warga Enggano yang sudah siap jual tersebut sudah tidak bisa dijual. Sebab, sudah mulai membusuk. "Sudah membusuk semua. Bahan pokok dari Bengkulu juga tidak bisa masuk," jelas Karyadi.Sementara itu, tidak bisa bersandarnya Kapal Ferry Raja Enggano karena tingginya gelombang di perairan Enggano. Data dari Stasiun BMKG Klas III Fatmawati Seokarno Bengkulu mencatat gelombang di perairan enggano mencapai 4 hingga 4,5 meter. Dilansir laman okezone.com"Memang ada kapal tujuan Enggano yang tidak bisa bersandar dan mesti balik lagi ke Dermaga Pulau Baai Kota Bengkulu. Ini karena gelombang tinggi yang diperkirakan akan terjadi sampai seminggu ke depan," kata Prakirawan BMKG Klas III Fatmawati Soekarno, Anjasman.(Fit)