Matatelinga.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membahas teror bom di kawasan Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari, sebagai acuan ketika membahas terorisme dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Amerika Serikat di California.Pada sesi bertema 'Protecting Peace, Prosperity, and Security in the Asia Pacific', Presiden Jokowi menyatakan bangga terhadap ketahanan dan keberanian masyarakat Indonesia dalam menghadapi teror bom tersebut. Seperti dilansir melalui laman okezone.com“Namun kita tetap waspada terhadap ancaman teror,” ujar Presiden Jokowi di hadapan Presiden AS Barack Obama dan para pemimpin negara anggota ASEAN.Menurut Presiden Jokowi, serangan di Jakarta mengingatkan pentingnya kerjasama dalam tiga hal, yakni mempromosikan toleransi, memberantas terorisme dan ekstremisme, serta mengatasi akar masalah dan menciptakan suasana kondusif terhadap terorisme.Kombinasi penggunaan hard power dan soft power, menurut Presiden Jokowi, dibutuhkan dalam mengatasi tindakan ekstremisme.Pada aspek hard power, Presiden Jokowi menyatakan Indonesia tengah mengkaji ulang Undang-Undang Terorisme. Hal ini dimaksudkan untuk penguatan payung hukum dalam menghadapi terorisme.“Penguatan legislasi ini tentunya dilakukan dengan mempertimbangkan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” ucap Presiden Jokowi.Namun di waktu bersamaan, lanjutnya, aspek soft power juga diperkuat. Caranya dengan melakukan pendekatan agama dan kebudayaan, melibatkan masyarakat, organisasi masyarakat dan keagamaan. Diversifikasi pendekatan deradikalisasi dan kontra radikalisasi juga dilakukan melalui program rehabilitasi narapidana teroris serta program penerimaan kembali (reintegrasi) di masyarakat.Presiden Jokowi juga membahas sebanyak 329 warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan kelompok militan di Suriah.Presiden Jokowi turut menyampaikan gagasan untuk memanfaatkan media sosial dalam menghadapi ekstremis dan teroris. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa penyebaran paham ekstremis dan ajakan bergabung dengan militan asing banyak dilakukan melalui media sosial.“Oleh karena itu, kita harus bekerja sama dengan media sosial dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi sebagai konter narasi,” kata Presiden Jokowi merujuk rencana kunjungannya ke markas Facebook dan Google di Silicon Valley.(Fit)