Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Menlu Retno Sudah Tahu Dimana Keberadaan 4 WNI yang Disandera
Sandera WNI

Menlu Retno Sudah Tahu Dimana Keberadaan 4 WNI yang Disandera

Admin - Selasa, 10 Mei 2016 10:30 WIB
google
Ilustrasi
Matatelinga.com, Pemerintah tidak kompak mengenai keberadaan empat warga negara Indonesia (WNI) yang masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Lestari Priansari Marsudi mengaku, sudah mengetahui keberadaan empat WNI yang disandera tersebut. Namun hal berbeda diungkapkan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam).

Luhut membantah jika pemerintah sudah mengetahui keberadaan dari empat sandera tersebut. "Di mana posisi mereka pastinya kita juga masih belum tahu," ujar Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/5/2016) kemarin.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut menambahkan, pemerintah sudah memiliki tim yang akan jadi negosiator dalam membebaskan empat WNI tersebut. Namun dia belum bisa mengatakannya lebih detail.

"Ada negosiator itu dikelola masih dengan tim dan tadi baru kita koordinasikan bu Menlu juga, saya belum bisa juga berebuka sama kalian (wartawan)," katanya.

Sebelumnya, Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi mengaku, sudah mengetahui keberadaan empat WNI yang disandera tersebut. Karenanya dia mengaku, akan terus berusaha membebaskan para WNI lewat jalur diplomasi.

"Kita pantau terus perkembangan, dalam arti kita tahu ada di mana sudah lengkap. Dan kita kemarin sudah buat lagi koordinasi kita sudah rapat di Menko Polhukam tuk perkuat kordinasi dalam rangka upaya bebasin empat sandera lain," ujar Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/5/2016).

Retno mengaku kemungkinan besar negosiasi yang dipakai pemerintah tidak sama seperti dalam membebaskan 10 WNI. Pasalnya kata dia, setiap kasus penyanderaan memiliki karakter yang berbeda-beda.

"Masing-masing kasus ada karakter yang beda. Jadi kita tidak bisa bekrja dengan satu template untuk tiap kasus. Dan yang harus diingat teman-teman adalah bahwa situasi lapangan sangat dinamis. Dengan template yang sama gak mungkin," katanya.

Sebelumnya, empat sandera Abu Sayyaf ditawan pada 15 April 2016. Mereka ialah awak kapal tunda TB Henry dan kapal tongkang Crista yang dibajak dalam perjalanan dari Cebu, Filipina menuju Tarakan, Kalimantan Utara. Dilansir dari laman okezone.com

Sementara itu, 10 sandera Abu Sayyaf yang telah dibebaskan tiba di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Para sandera tersebut merupakan awak kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa 7.000 ton batu bara dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Filipina. Kapal itu bertolak pada 15 Maret dan kemudian dibajak Abu Sayyaf di perairan Sulu pada 27 Maret lalu.

Para sandera yang dibebaskan Abu Sayyaf adalah Peter Tonson (30) asal Batu Aji, Batam; Julian Philip (49) asal Minahasa; Alvian Elvis Peti (32) asal Tanjung Priok, Jakarta; Mahmud (31) asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan; Surian Syah (32) asal Kendari, Sulawesi Tenggara; Surianto (30) asal Gilireng Wajo, Sulawesi Selatan; Wawan Saputra (22) asal Palopo, Sulawesi Selatan; Bayu Oktavianto (22) asal Klaten, Jawa Tengah; Reynaldi (25) asal Makassar, Sulawesi Selatan; dan Wendi Raknadian (28) asal Padang, Sumatra Barat.

(Fit)


Tag:

Berita Terkait

Nasional

Matatelinga.com Meraih Juara Satu, Pembaca dan Pengunjung Terbanyak Pemberitaan Polda Sumut

Nasional

PWI Labuhanbatu Akan Gelar Konferensi IX, Panitia Pelaksana Terbentuk

Nasional

14 Tahun Matatelinga, Menapaki Anak Tangga Tak Perlu Harus Melompat

Nasional

Semarak Syukuran HUT ke-14 matatelinga.com dan Peresmian Kantor Advokat Amrizal SH MH

Nasional

Hore.....Harga Emas Turun ke Angka Rp2.104.000 dari Harga Rp2.105.000 per gram

Nasional

Serangan Udara Besar Besaran Rusia di Ukraina, Ini Kata Donald Trump