Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Indonesia Pimpin Pertemuan Negara ASEAN Bahas Fenomena FTF
FTF

Indonesia Pimpin Pertemuan Negara ASEAN Bahas Fenomena FTF

Admin - Kamis, 11 Agustus 2016 12:21 WIB
google
Ilustrasi
Matatelinga.com, Negara-negara ASEAN yang dipimpin Indonesia pada hari ini fokus membahas fenomena foreign terrorist fighter (FTF) di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali. FTF adalah fenomena terorisme lintas batas yang muncul seiring dengan keberadaan kelompok militan ISIS. Pertemuan itu dihadiri negara anggota ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina. 

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius dalam paparannya menyampaikan bahwa pengalaman menanggulangi terorisme sudah dimulai sejak Indonesia merdeka. “Terorisme adalah kejahatan terhadap umat manusia sehingga upaya untuk menghentikan hal tersebut harus dilakukan secara saksama. 

Indonesia dari waktu ke waktu terus berusaha menghentikan fenomena ini,” kata Suhardi yang didampingi Deputi Bidang Kerjasama Internasional Irjen Dr Petrus R Golose, Kamis (11/8/2016). Santoso sebagai pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) telah ditembak mati oleh Satgas Operasi Tinombala beberapa waktu lalu. Seperti dilansir dari laman okezone.com

Namun, lanjut Suhardi, bukan berarti masalah terorisme di Indonesia selesai. Menurutnya, terorisme akan terus menjadi ancaman mengingat pengaruh radikalisme berkembang di mana-mana, khususnya setelah ISIS menjadi kekuatan baru dalam terorisme. Apalagi, tegas Suhardi, di kelompok Santoso sebelumnya banyak bergabung FTF dari luar negeri. 

Hal itu tentu harus dijadikan bahan evaluasi dan pelajaran untuk mengantisipasi keberadaan FTF ini di masa mendatang. Suhardi menegaskan Indonesia sebagai negara demokrasi tetap menghormati kebebasan berpendapat dan menghormati hak asasi manusia. Namun, hal yang menjadi kendala dalam penanggulangan terorisme karena regulasi masalah terorisme masih sangat lemah sehingga dibutuhkan upaya keras untuk menekan hal ini. 

Menurut mantan Kabareskrim Polri ini, salah satu program pemerintah adalah deradikalisasi yang dianggap dapat membantu dalam menekan pengaruh radikalisme dan terorisme. “Program ini melibatkan semua stakeholder di Indonesia untuk bersama-sama bekerja melawan radikalisme dan terorisme,” tutur Suhardi. Selain itu, terang Suhardi, petugas keamanan, dalam hal ini kepolisian, terus berusaha meningkatkan profesionalisme dan pengembangan kapasitas dalam peningkatan penanggulangan terorisme. 

Namun dari satu sisi indonesia juga tetap membuka diri untuk bekerja sama dan belajar dari negara negara sahabat dalam penanggulangan. “Kita tidak bisa sendiri dalam menangani terorisme. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga harus kerjasama antar negara,” jelas Suhardi.

(Fit)


Tag:

Berita Terkait

Nasional

Kolaborasi USM Indonesia dengan Dinas Kesehatan Gelar CKG, Targetkan 2000 Warga Ikuti Tes Kesehatan

Nasional

JNE Kecam Aksi Pembegalan Kurir di Bandung, Berikan Apresiasi kepada Ksatria JNE

Nasional

Mantan Kepala Departemen Sales and Marketing Inalum Didakwa Rugikan Negara Rp141 Miliar

Nasional

Tangkap Geliat Pasar EV, Kemnaker Siapkan SDM Terampil untuk Sektor Green Jobs

Nasional

BPJS Ketenagakerjaan dan BSI Perkuat Kemitraan dengan Koperasi Keluarga Pers Indonesia

Nasional

Bobby Nasution Dorong Terobosan Ekonomi Sumut Berbasis Potensi Lokal