Matatelinga.com, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap jamaah calon haji agar menggunakan gelang elektronik atau e-bracelet berisikan identitas. Gelang itu seharusnya dipakai jamaah begitu tiba di Arab Saudi. Namun, karena vendor yang ditunjuk pemerintah Saudi kewalahan, produksi gelang untuk jamaah Indonesia dilakukan di Kantor Urusan Haji Jeddah.’’Semestinya gelang digunakan saat jamaah tiba agar bisa segera terdeteksi identitasnya jika tersesat. Tapi, ada kendala dari pihak muassasah sehingga produksinya belum selesai,’’ ujar Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi Ahmad Dimyathi Bashori, Minggu (28/08/2016). Jika terjadi musibah masal seperti tahun lalu. Gelang tersebut sangat membantu petugas jika menemukan jamaah yang tersesat. Minggu (28/08/2016)Penampakan gelang elektronik mirip gelang kertas tahan air wahana hiburan di Tanah Air. Profil yang tercatat di dalamnya mulai dari nama jamaah, asal negara, nomor paspor, hingga nomor telepon bebas pulsa yang bisa dihubungi. Gelang berwarna putih tersebut juga dilengkapi QR code dan barcode yang ketika di-scan bisa menunjukkan identitas lengkap jamaah. Di gelang itu juga ada data penempatan jamaah haji yang bersangkutan. Berbeda dengan gelang metal para jamaah yang hanya dilengkapi nama, nomor paspor, dan kloter.Sayangnya, lem perekat di gelang tersebut tidak tahan dengan air panas dan sabun. Sehingga meski ditarik tidak robek, sisi sambungannya lepas ketika terkena air panas dan sabun. ’’Itu menjadi evaluasi kami. Kami imbau para jamaah berhati-hati saat mandi atau mencuci tangan. Kalau hanya kena air biasa, tidak apa-apa. Hindari terkena air panas dan sabun,’’ ucap Dimyati. Proses produksi e-bracelet dilakukan di Kantor Urusan Haji. Mesin cetak yang digunakan sama persis dengan standar yang digunakan vendor-vendor Saudi. Pencetakan akan terus dilakukan sesuai dengan total jamaah haji Indonesia. Saat ini sudah 60 persen. ’’Harga produksi per gelang sekitar 1,4 riyal (setara dengan Rp 5.000),’’ kata Dimyathi. (Fit/Okz)