Matatelinga.com - Politik meja makan yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperlihatkan kesadaran presiden terkait perlunya komunikasi dua arah, dinilai akar Ilmu Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro.Hal ini dilakukan presiden karena pasca aksi unjuk rasa 4 November 2016 lalu, presiden yang tidak mau menemui pengunjuk rasa membuat situasi di dalam negeri menjadi memanas."Jadi karena tanggal 4/11 lalu Pak Jokowi enggak mau ditemui suasana menjadi memanas, pasca tanggal 4 itu ada kesadaran baru bahwa memang perlu ada komunikasi dua arah," kata Siti seperti dilansir Okezone, Kamis (1/12/2016).Sebelum aksi 4 November 2016 lalu, Presiden Jokowi hanya menemui Ketua Umum Partai Gerindra dan beberapa ormas islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)."Jadi tidak hanya dengan Prabowo dan tiga ormas islam. Tapi diluaskan dengan kekuatan politik dan ormas islam lain. Ada kesadaran baru untuk menjalin komunikasi politik baik pendukung maupun bukan pendukung dan dengan ormas islam khususnya yang memang berkiprah di lapangan karena jika hanya dengan Muhammadiyah, NU dan MUI tidak cukup," ujarnya.(Mtc)