MATATELINGA, Jakarta: Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI), IKaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), dan Maju Perempuan Indonesia angkat bicara terkait situasi terakhir yang menimpa warga etnis Rohingya di Myanmar. Dalam pernyataan bersamanya, mereka menyampaikan keprihatinan terhadap pengungsi Rohingya, terutama kaum perempuan dan anak-anak yang telah mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik maupun seksual, ancaman pembunuhan anak-anak di dalam berbagai kasus.Oleh karena itu, dalam keterangannya mereka mengapresiasi dukungannya terhadap penyelesaian krisi Rohingya. "Bagaimana pun, kami sangat memberikan perhatian terhadap kejahatan kemanusiaan dan kejahatan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Rohingya sampai hari ini," kata GKR Hemas, selaku Koordinator Presidium KPP RI di Media Center Gedung Nusantara III di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/9/2017).Dalam kesempatan itu, Ratu Hemas yang juga anggota DPD RI asal Jogjakarta itu, didampingi Koordinator MPI yang juga anggota Fraksi PPP DPR RI Lena Maryana Mukti, dan Ketua Umum DPP KPPI Dwi Septiarwati Djafar.Melanjutkan pernyataannya, Ratu Hemas menuturkan bahwa berdasarkan data UNHCR, kekerasan terakhir terjadi pada 25 Agustus terhadap lebih dari 300 ribu pengungsi Rohingya ke Bangladesh."Ini berarti sekitar 20 ribu orang mengungsi ke Bangladesh setiap harinya, sementara itu sekitar 600 ribu warga Rohingya masih terjebak di area terpencil dan hutan sejak kampung mereka dibakar," bebernya lagi.Sedang Lena Maryana mengatakan, organisasi yang terdiri dari KPP RI, KPPI dan MPI bersama-sama menyampaikan keprihatinan terhadap pengungsi Rohingya, terutama perempuan dan anak-anak yang telah mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik maupun ancaman seksual."Juga ancaman pembunuhan terhadap anak-anak di dalam berbagai kasus, harus menjadi perhatian serius pemerintahan Myanmar," tegas Wakil Ketua Komisi IX DPR itu.Dalam pernyataan sikap bersama yang dibacakan Dwi Sepriawati, mereka mendesak pemerintahan Myanmar yang dipimpin Aung San Suu Kyi agar mengambil langkah-langkah yang salah satunya memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan oleh badan bantuan yang bekerja di camp pengungsian di Bangladesh dan perbatasan negara bagian Rakhine."Terutama untuk bantuan darurat bagi perempuan dan anak-anak yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan tidak mempunyai apa-apa," kata Dwi lagi.Kaukus gabungan ini juga meminta pemerintah Myanmar memberikan keamanan dan keselamatan bagi perempuan dan anak-anak yang saat ini dalam perjalanan dari Myanmar dan meminimalkan ancaman kekerasan, terutama kekerasan seksual."Juga melakukan pencegahan kekerasan berbasis gender dan menjamin bantuan darurat berdasarkan prinsip-prinsiphak asasi manusia. Mendirikan pusat krisis, rehabilitasi, dan penyembuhan traumatis," pintanya.(Mtc/Aam)