Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
ICW: Pemilukada Lewat DPRD Tak Cegah Politik Uang

ICW: Pemilukada Lewat DPRD Tak Cegah Politik Uang

- Sabtu, 21 April 2018 08:12 WIB
photo by indonesiakita.com
MATATELINGA, Jakarta: Peneliti Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina meragukan sistem pilkada melalui DPRD bisa menekan risiko dalam pelaksanaan pilkada langsung. Hal ini menyikapi anggapan sejumlah pihak bahwa pilkada langsung memicu proses politik berbiaya tinggi. Menurut dia, kesalahan bukan pada sistem pemilihannya, tetapi pada partai politik itu sendiri. "Apakah menjawab dengan sistem pilkada langsung diubah ke tidak langsung? Tidak. Mahar politik tetap ada, itu yang terjadi dulu sebelum pilkada langsung," ujar Almas di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (20/4/2018).Almas mengatakan, saat pilkada tidak langsung, politik uang masih terjadi. Bukan dibagikan ke masyarakat, tetapi ke anggota dewan untuk merebut suara mereka. Oleh karena itu, menurut dia, mengganti sistem pemilihan tidak akan menjawab akar persoalannya. Tetap akan ada potensi calon kepala daerah tersangkut korupsi. "Jangan sampai sistemnya sudah ganti, tetapi ternyata masalahnya tidak selesai-selesai," katanya.Menurut Almas, ada beberapa cara mengatasi politik berbiaya tinggi dalam pilkada langsung. Salah satunya dengan membatasi biaya kampanye. Saat ini, batasan jumlah belanja kampanye masih sangat tinggi sehingga harga pilkada pun mahal. Selain itu, kata Almas, juga harus ada pembenahan di level parpol supaya sehat.Salah satunya soal pendanaan sehungga tidak perlu meminta mahar politik kepada calon kepala daerah. Partai politik yang justru memberi sumbangan kepada calon yang diusung. "Kalau sudah baik, sisi rekrutmennya akan baik," ujarnya. Selain itu, sistem penegakan hukum juga harus lebih kerasAlmas meminta penegak hukum pemilu harus lebih progresif mengejar akar permasalahannya. Jangan hanya menyasar pemberi dan orang yang diberi dalam politik uang, tetapi juga menelusuri asal usul dana tersebut. Sementara itu, untuk menekan biaya politik saat pilkada, perlu pemangkasan anggaran untuk alokasi tertentu.Misalnya, kata Almas, tidak perlu membayar saksi di tempat pemungutan suara (TPS). Sebab, Bawaslu telah menempatkan saksi-saksi yang menyebar di TPS. Menurut dia, hanya perlu memperkuat pengawasnya supaya independen. Selain itu, bisa juga memanfaatkan teknologi untuk memantau proses pemilihan hingga penghitungan suara.

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Magister Manajemen USM Indonesia Hadirkan Kuliah Fleksibel bagi Profesional

Nasional

Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan

Nasional

Indonesia Perkuat Koridor Rantai Pasok dari Sumut

Nasional

Indonesia Perkuat Koridor Rantai Pasok dari Sumut

Nasional

Permudah Masyarakat Transaksi Non Tunai, Wali Kota Wesly Apresiasi KPw BI Siantar

Nasional

18 Tahun Kebersamaan, JAPFA Berperan Dukung Peningkatan Kualitas Gizi dan Kesehatan Anak Indonesia